August 12, 2010
Dahulu kasus LPG (Liquefied Petroleum Gas) meledak tidak seramai tahun ini. Sudah banyak korban yang diakibatkan dari penggunaan LPG terutama dari tabung LPG yang ukuran kecil 3Kg. Kalau ditanya siapa yang salah pasti saling menuding, yang satu bilang kalau yang salah pemerintah sedangkan satunya lagi bilang kalau cara pemasangan regulatornya, ininya, itunya tidak sesuai dengan tata cara atau aksesoris *halah* LPG tidak masuk kategori SNI (Standar Nasional Indonesia).
Suatu hari secara tiba-tiba di kamarku tercium bau kotoran kebo. Penasaran juga mencari sumber bau itu, dan ternyata berasal dari tabung LPG. Dulu bau gas yang keluar dari LPG tidak bau kotoran kebo, aku ingat betul dengan bau gas itu. Sebetulnya gas dari tabung LPG itu adore-less atau tidak berbau. Tetapi para ilmuwan sepakat *halah* untuk memberi aroma sebagai penanda bahwa tabung mengalami kebocoran. Di sini aku protes kenapa para ilmuwan memilih bau kotoran kebo sebagai penanda? Kenapa tidak memilih aroma yang lebih nose-friendly?
Aku sendiri sudah mencoba bermacam cara untuk menghindari kebocoran dari tabung LPG itu, mulai dari mengganti regulator yang harganya lebih mahal yang konon katanya lebih aman, mengganti seal karet dengan yang baru sebelum memasang regulator, sampai menambahkan pengaman segitiga untuk mengunci regulator pada tabung. Tapi tetap saja dalam hitungan hari masih saja tercium bau kotoran kebo, bau pilihan para ilmuwan *halah*. Akhirnya jadi ingat moto “secure for now, may not secure for tomorrow“.
Entah ini sebagai solusi atau bukan kami beralih menggunakan Blue Gas. Regulatornya mempunyai bentuk yang berbeda, dia menggunakan ulir. Dengan menggunakan ulir kemungkinan gas bocor bisa diminimalisir. Kemungkinan bocor bisa terjadi dari selang antara ujung regulator sampai dengan kompor. Penggunaan Blue Gas mungkin belum memasyarakat, yang menjual juga tidak begitu banyak. Aku sendiri di kota Malang membeli Blue Gas di daerah pasar Sukun. Mungkin ini salah satu solusi, bisa jadi bersifat sementara atau selamanya sampai ada solusi yang lebih baik.
Ssttt.. yang jual Blue Gas di pasar Sukun engkoh moody. Kadang baik, kadang juga sering menatap sinis ke pelanggannya. Bagiku lebih mudah menghadapi engkoh moody dari pada bau kotoran kebo pilihan ilmuwan. *halah*
By isdah ahmad
Category Blog, Opini
3 Comments
August 09, 2010
Semua pasti tahu arti kata “antah berantah”, banyak yang mengatakan bahwa kata “antah berantah” adalah dunia fantasi waktu kita masih sering mengkhayal menjadi seseorang. Seseorang yang lebih baik, seseorang yang lebih berguna bagi yang lain.
Ketika kita mulai beranjak dewasa dunia antah berantah itu menjadi semakin bias hingga kita lupa dengan gambaran dunia itu. Pembiasan itu imbas dari kesibukan kita mengurusi hal-hal untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Bekerja dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar membuat kita lupa dengan keinginan kita, fantasi kita bahkan dunia antah berantah.

10 Januari 2010 - Green Lime
Dengan berjalan dan meluangkan waktu sendiri membangun kembali dunia antah berantah itu. Dunia yang akan menjadi bias atau bisa dikatakan abstrak bisa menjadi kongkrit dan solid di ingatan kita. Namun itu semua perlu dijaga agar tetap solid dalam memori kita. Aku menggunakan penanda hasil belajar dari seorang teman untuk menjaga ingatan dunia antah berantah dan deretan frame agar membuatnya abadi.

10 Januari 2010 - Red

10 Januari 2010 - Red

10 Januari 2010 - Green

10 Januari 2010 - Purple
Lima frame cukup untuk mengingatkanku pada tempat itu. Aku masih berharap dapat kembali ke sana dengan cerita berbeda dan menjadi seseorang yang berbeda. Semoga Tuhan mengabulkan permintaanku, dan permintaanku menjadi yang terbaik bagi semua.
*aamiin*
By isdah ahmad
Tags: shutter, wishlist
Category Blog, Jalan-jalan
5 Comments
July 31, 2010
Mendekati bulan penerimaan (maha)siswa baru pasti disambut dengan dinginnya kota Malang. Bagi yang tinggal di daerah yang dingin bukan menjadi masalah. Rata-rata suhu di kota Malang antara 21 derajat celcius sampai suhu terpanasnya 32 derajat celcius. Ditambah efek global warming suhu tertingginya bisa mencapai 37 derajat celcius, kalau waktu siang panasnya bukan main.

Masjid Agung Jami' Malang
Di bulan Oktober ini sampai Agustus angin dingin dari Australia menuju daerah di Jawa Timur salah satunya kota Malang *cmiiw*. Sehingga menyebabkan suhu udara di kota Malang mencapai 16 – 28 derajat celcius dengan kelembaban 47-94%.
Dulu waktu aku masih kecil hampir setiap pagi pasti melihat kotaku berkabut. Aku masih ingat di sudut alun-alun kota Malang setiap pagi berangkat sekolah melihat orang berolah-raga dengan ekspresi menahan udara dingin, beberapa orang berjualan serabi dan bakpao di pagi yang dingin. Dan yang paling tercetak di otakku kabut ditambah dengan matahari pagi, yup sinar matahari yang melewati rimbunan pohon beringin membuat garis-garis sinar. waaaaw.. nostalgia banget. 
Suatu hari di bulan Oktober waktu berangkat kerja kotaku berkabut, karena termasuk kejadian langka di era global warming langsung aku ambil kamera poket dan tekan shutter tanpa mikirin apapun. Jadinya hasilnya juga seadanya, cukup buat mengenang kota Malang tempo dulu. 

Bank Mandiri, samping Masjid Agung Jami' Malang

Alun-alun Kota Malang, sebelah selatan

Alun-alun Kota Malang, sebelah selatan

Ke arah Pasar Besar Malang
By isdah ahmad
Tags: malang, shutter
Category Blog, Jalan-jalan, Krisis Lingkungan
1 Comment
June 21, 2010
Hohohooo.. kesibukan kantor memang mengganggu hobi bermain. Kalau guru waktu liburan sekolah pasti libur juga, berbeda dengan guru plus seperti saya dan teman-teman yang lain. Waktunya liburan disibukkan dengan PSB, Rapotan, MOS (Masa Orientasi Siswa). Akhirnya biar tidak sampai kejadian sutris aka stres bahkan sampai gila makan semir sepatu *eh*, maka kudu curi-curi waktu liburan. Bisa jadi waktu weekend atau waktu hari libur nasional.
Sedikit gambaran saja, apa yang ada di bulan Juni-Juli:
- Savanah Bromo (bukit teletabis denial)
- JFC – Jember Fashion Carnaval Carnival *semoga lebih bagus dan ramai*
- JOSS – Jogja Street Shot *semoga tidak ada kejadian teroris seperti tahun kemarin*
Berikut sedikit foto nostalgia diambil dari beberapa sumber:

Savanah Bromo (Bukit Teletabis Denial) by Oom Nunug

Savanah Bromo (Bukit Teletabis Denial) by Oom Nunug

Ranupane by Oom Nunug
Trus untuk sisa foto nostalgia bisa dilihat di galeri saya sendiri:
Semoga tidak ada aral melintang yang menghalangi. Eh dan semoga Mon Ami juga mau ikutan kalau tidak sibuk 
*Aamiin*
By isdah ahmad
Tags: dulin, liburan, shutter
Category Blog, Jalan-jalan
No Comments
June 21, 2010
Minggu ini sibuk banget kebetulan menjelang awal tahun ajaran baru, agenda kantor tumplek jadi satu di bulan Juni ini. Ada penerimaan siswa baru yang dibarengi dengan kenaikan kelas sekaligus penjurusan *kombo*. Memang ini acara tahunan, dan tiap tahun sibuknya juga sama hanya saja atmosfirnya yang membedakan dalam artian konfliknya beda. 
Perlu sedikit hiburan di antara mengurusi deretan angka nilai hasil kerja keras siswa dalam satu semester. Kebetulan juga ada acara tahunan GASKS (Gelar Apresiasi Seni Krida SMALA) yang diselenggarakan oleh eskul teater sekolah yang berjudul “TMO”. Sampai saat ini aku sendiri masih tidak tahu arti dari “TMO” itu. 
Tiket masuknya sangat murah sekali hanya Rp3.000,- dan mendapatkan snack berupa donat. Awalnya aku kira hanya aku sendiri yang nonton di antara guru lainnya, eh ternyata ketemu sama guru yang lain ditambah ketemu siswa yang baru lulus kemarin. *jingkrak”*
Acaranya agak telat setengah jam karena ada sedikit perbaikan minor. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pintu masuk dibuka. Aku langsung cari spot yang enak buat nonton tapi sayang aku tidak membawa kamera. Memang saat itu ingin kosentrasi menonton saja tanpa bingung curi gambar. 
Dan acarapun dimulai, “TMO” ini mengadaptasi dari cerita Ande Ande Lumut yang sudah dimodifikasi dengan versi yang lebih modern tanpa meninggalkan pesan moral dari cerita Ande Ande Lumut. Oh iya, “TMO” ini tidak hanya teater saja, tapi dimodifikasi dengan tari dan karawitan.
Aku sendiri sudah tahu cerita tentang Ande Ande Lumut dulu waktu dibelikan oleh Ibu kaset “Sanggar Cerita” kalau tidak salah dibuat oleh Sanggar Prativi. TMO ini karya Pak Azis S., yang disutradarai oleh Ardie yang baru lulus kemarin.
Dari awal teater dimulai aku tidak habis ngakak sampai keringetan. Mulai make-up sampai sekecil apapun yang dibawakan oleh mereka pasti mengundang ketawa. Mereka dengan jenius memadukan guyonan ringan ala anak SMA dengan guyonan umum. Aku terus terang terhibur sampai lupa kerjaan, tapi tidak lupa sama pacar loh. *eh* 
Ada satu hal yang sangat aku sayangkan, yaitu penonton rese’ yang berisik tidak jelas. Sangking berisiknya sampai dialog antar pemain tidak kedengaran. Saat itu dalam hati cuman bisa berkata #$%^&* hehe..
Akhir dari cerita berharap ada sarasehan ada beberapa pertanyaan yang sebetulnya membuat aku penasaran. Mungkin waktu yang semakin malam membuat acara tersebut berhenti sampai di sana. Aku hanya bisa kasih tepuk buat penggagas ide cerita, para pemain dan panitia. Tahun depan pasti akan lebih menarik dari tahun ini, jadi penasaran tahun kedepan akan seperti apa ceritanya.
By isdah ahmad
Tags: gasks, teater
Category Blog
1 Comment