March 28, 2009
Semakin bertambah umurku, semakin bertambah tantangan kedepan. Walaupun begitu harus dihadapi sendiri dengan bekal yang ada
Banyak yang kuinginkan selama ini salah satunya memberikan sesuatu yang berarti ke dunia ini.
Terima kasih banyak buat semua
Makaaaaan makaaaaaaaaaan…
Oh iya dapet suprezzz dari ipa-4 *jingkrak*, tapi potonya cuman dikit
lah keburu pulang seeh *tendang” zella sama punjung* mari liat bersama di sini.
By isdah ahmad
Category
Blog
10 Comments
March 24, 2009
Beberapa hari yang lalu mendadak sakaw, tiba-tiba rasa ingin membaca buku bertambah, tiba-tiba rasa ingin jeprat-jepret membludak. Kalau sudah sakaw pasti lupa harus makan karena tanggung baca buku atau tanggung di momen, kadang juga lupa harus istirahat buat esok hari dan masih juga urusan tanggung baca atau menyunting foto dengan komputer jinjing yang-sudah-terlambat-teknologinya.
Dan sudah dipastikan sakit pada akhirnya. Menyesal? Oh tentu tidak!
Beberapa hari badan sakit semua, demam, kepala pusing, dan lemas. Trus kenapa tidak menyesal? Entah kenapa saya mencoba untuk menikmati rasa sakit ini. Dan ternyata saya mendapatkan banyak pelajaran ketika menikmatinya. Setiap langkah, setiap sudut, setiap detil sekitar yang saya lewati ternyata terlihat berbeda. Sayapun bertanya “loh, selama ini saya melewatkan hal ini?”.
Kadang kita sangking sibuknya jadi lupa menikmati waktu setiap detiknya. Tapi ketika kita menikmati apa yang ada rasanya waktu begitu panjang. Tuhan terima kasih buat sakitnya
semua tampak begitu indah.
*halah koq melow*
By isdah ahmad
Category
Blog
13 Comments
March 21, 2009
Pulang dari jeprat-jepret di Kebun Raya Purwodadi sampai di daerah blimbing iseng lihat ke atas awan. Tampak di sana awan berwarna keemasan, tapi beberapa saat kemudian dia berubah warna pelangi *takjub*. Kebetulan bawa kamera ya langsung deh jepret. Dan baru tau juga kalo ini namanya Iridescence Cloud, dikasih tau didik.

Kalau ingin tahu lengkapnya bisa baca disini:
By isdah ahmad
Tags: pelangi, Shutter
Category
Blog, Jalan-jalan
6 Comments
March 09, 2009
Barusan diskusi dengan beberapa teman fotografer, dan bahasan yang menarik di kalangan fotografer adalah seputar pose, model dan senjata yang dipakai. Lah bahasan yang paling lama biasanya senjata yang dipakai oleh fotografer tersebut, seperti body kamera dan lensa yang dipakai.
Bukan bicara merk kamera, bagi saya sendiri apapun kameranya selama kreativitas ada bukan masalah besar. Sesuai dengan judul kita bicara mengenai kasta saja. Kita ambil contoh Canon dari tipe empat dijit sampai dengan satu dijit, semakin kecil dijitnya semakin mahal harganya sampai puluhan juta.
Lah semakin kecil dijitnya hasilnya semakin bagus juga, hal ini dikarenakan ukuran sensor yang ada dalam kamera dan prosesor untuk mengolah gambar hasil jepretan. Lensa juga mempunyai pengaruh besar dalam mengambil gambar, seperti punya Canon yang L series (L artinya Luxury) harganya cukup mahal juga apalagi bila dia punya nilai F besar senilai 1,2 yang bisa menghasilkan blur yang sepektakuler.
Ironisnya ketika body dan lensa pakai yang kasta atas untuk mengambil gambar model, biasanya pose model sederhana saja seperti mengelus rambut atau tersenyum saja. Dan hasil jepretan dari komposisi tersebut so pasti yahuud! Eh iya hampir lupa sisi ironisnya, jadi begini dengan senjata yang yahud akhirnya membuat membunuh kreativitas fotografer tersebut. Bayangkan saja sekali jepretan sederhana dengan senjata seperti itu hasilnya bisa bikin ngiler.
Saya pribadi masih di dalam kasta tiga dijit, sehingga untuk membuat foto yang bagus banyak hal yang harus diperhitungkan. Senjata yang saya andalkan malah kekreativitasan saya bukan kamera yang saya bawa. Dengan begitu men-trigger semua kekurang saya, apalagi saya juga masih cupu+nyubi urusan jepret-jepret *eh redundant ya*
Kamera itu hanya tool atau biasa disebut hardware, tangan dan mata bisa disebut software, dan otak kreatif disebut brainware. Ketika semua digabungkan jadilah sebuah liveware *loh*. Postingan ini hanya sebatas IMHO saja, dan saya pribadi ingin naik ke kasta dua dijit tapi apa daya belum menemukan duit yang nyelip di dalam dompet. Tapi dengan apa yang ada sekarang saya harus bisa membuat karya yang tetap membuat orang senang melihatnya.
*aduh kapan ya punya 5D Mark II*
By isdah ahmad
Category
Blog, Opini, Shutter
12 Comments
March 08, 2009
“…orang bisa tampak tiap saat sibuk berdoa sambil menyakiti sesama. Kita tertib berdoa, tetapi tak pernah tertib sosial, hukum, maupun politik. Mungkin karena dungu, kita memilih mengutamakan doa dan mengabaikan amal nyata.”
–Mohamad Sobary
Baca di footer e-mail punya si Benceh, betul juga kata si Mohamad Sobary. Akhir-akhir ini saya sering dapet teror entah lewat SMS atau e-mail, lah di situ dia si pengirim suka meng-hidden-kan namanya atau kalau lewat SMS sering gonta ganti no *yoih ciken by default*. Ketika saya tanya “siapa kamu?”, dia tidak menjawab apapun malah memberikan ancaman berlebihan.
Lah saya sebagai korban otomastis bertanya-tanya tentang salah saya apa? sehingga kalau saya punya salah dan salah tersebut menyusahkan orang maupun kelompok, saya pasti minta maaf selama kesalahan tersebut memang benar salah saya dan benar-benar merugikan.
Usut punya usut ternyata ada salah satu teror yang ternyata nyasar *tepok jidat*, dia salah no hp jadi sampainya ke saya. Salahnya dua dijit di belakang, dan dianya sudah minta maaf minta maaf. Hadaaah… klo jadi bos mafia aku pecat tuh anak buah *goblok*, dan berkuranglah si tukang teror. Tinggal beberapa yang masih belum ngaku tentang identitas dia *yoih natural born cikenlah*
Salah satu tukang teror ada yang memakai id yang sangat relijius, dalam hati berpikiran wah tuh orang ibadahnya pasti kenceng. Tapi ya heran juga kalau ibadahnya kenceng tapi sifat dan perbuatannya seperti itu. Jangan-jangan orang tersebut berpikiran ibadah itu seutuhnya untuk Tuhan dan teror itu untuk manusia. Bukankah semua perbuatan itu juga termasuk ibadah? apalagi antara manusia satu dan lainnya? Jadi so pasti dunk berbuat baik kepada sesama itu termasuk ibadah. *doh blepotan pikiranku*
ya ya ya… semua itu chain reaction…
By isdah ahmad
Category
Blog
8 Comments