Isdah Ahmad

captured in fast script motion

Archive for February, 2008


Laporan lingkungan bertumpuk calon sampah baru

Beberapa minggu yang lalu saya berserta teman-teman mempunyai tugas untuk membuat laporan mengenai Adiwiyata. Apa itu Adiwiyata? Adiwiyata sama seperti lomba Adipura tapi untuk tingkat sekolah. Laporan itu merupakan hasil dari kegiatan kepedulian sekolah terhadap lingkungan, dari kegiatan siswa menanam pohon, pelestarian lingkungan sekolah dengan pembangunan Green House, sampai dengan pengolahan sampah organik.
Laporan yang dibuat terdiri dari enam buku dan itu harus rangkap dua, satu dikirim ke Jakarta dan satunya dikirim ke Surabaya. Dalam satu buku laporan terdiri dari puluhan lembar kertas A4S (80gram) ditambah kertas photo glossy. Dan dalam pembuatan laporan itu juga menghabiskan tinta beberapa botol. Jumlah tersebut memang cukup ironis, dimana kita mengkampanyekan untuk mengurangi penggunaan sampah kertas dan plastik berlebih tetapi kita malah banyak menghamburkan kertas terlebih lagi ketika salah mencetak atau paper-jam yang membuat kertas lusuh.Dengan tebalnya laporan tersebut, saya sedikit ragu apakah laporan tersebut dibaca dan dianalisa satu per satu oleh petugas yang berwenang. Kenapa mereka tidak menilai secara obyektif saja dengan datang dan melihat sekolah tersebut?

Solusinya bagaimana? Mengapa kita tidak memberikan kepada juri berupa file dengan format Portable Document Format (PDF). Padahal file dengan format PDF tersebut merupakan dokumen resmi. Dengan begitu berapa banyak pohon yang terselamatkan? Berapa banyak sampah yang berkurang?

Bakat itu hasil dari akhir

Beberapa orang sering mengeluh tidak bisa mengerjakan sesuatu dengan alasan bukan bakat dia. Padahal segala sesuatunya itu bisa dipelajari dan dimengerti.

Beberapa waktu yang lalu ada orang yang meminta saya untuk mengerjakan program dia. Dikarenakan jadwal saya yang cukup padat saya mencoba untuk merekomendasikan teman saya untuk mengerjakan, tapi dia tidak setuju dengan pendapat saya.

Barusan saja dia menanyakan kapan saya bisa mengerjakannya. Saya sudah belum mampu untuk mengerjakannya dalam waktu dekat. Dia masih memaksa saya yang mengerjakannya. Dan pada akhirnya dia bilang “Mas tidak kasihan dengan saya?”, dengan sedikit jengkel saya menjawab “Kasihan juga karena kamu belajar pemrograman selama lebih dari lima tahun tapi tidak bisa membuat program”. Dia langsung menjawab “Orangkan bakatnya beda-beda”.

Saya ingat beberapa tahun yang lalu teman saya mengatakan bahwa saya tidak cocok untuk menjadi seorang programmer, karena hasil script saya yang amburadul saat itu. Tapi saya selalu mencoba untuk menjadi lebih baik, walaupun saat ini masih kalah jauh dibandingkan dengan orang itu dan orang ini.

Pendapat pribadi saya, bakat itu merupakan hasil dari akhir. Contohnya bila kita seorang pemahat kita diberi sebongkah kayu dan diminta untuk membuat sebuah karya. Ternyata hasil kita cukup mengecewakan dibandingkan dengan yang lain. Kita bisa membuat karya tersebut, tapi karya itu indah atau tidak? Itu baru dikatakan hasil dari bakat.

Tidak sesuai jadwal itu sehat

Pernah bekerja di sebuah institusi? Cobalah bila Anda menginginkan tantangan yang berbeda. Biasanya beberapa jam sebelum kita berangkat ke kantor kita sudah mempunyai bayangan apa yang akan kita kerjakan, bisa jadi kita membuat to-do-list seperti ini:

  • 06.30: tiba di kantor dan berbersih kantor
  • 06.45: cek e-mail pribadi dan kantor, sambil browsing
  • 07.00: menyelesaikan pekerjaan kemarin
  • 10.15: memberikan laporan baik yang penting atau tidak ke bos
  • 11.00: berangkat makan siang dan menemui rekan bisnis di kafe sebelah
  • 12.45: balik ke kantor dengan pekerjaan baru sambil cek e-mail
  • 13.00: kembali ke pekerjaan
  • 14.15: persiapan pulang
  • 14.30: pulang mampir ke supermarket buat belanja makan malam

Dan itu menjadi rutinitas tiap hari. Tapi bagaimana bila di institusi? to-do-list? siapa yang butuh?

  • 06.30: tiba di kantor dan berbersih kantor
  • 06.45: cek e-mail pribadi dan kantor, browsing dan nge-junk sana sini
  • 07.00: menyelesaikan pekerjaan kemarin sambil menunggu pekerjaan baru
  • <cut>
    • kriiiiinnnnggg…. *bunyi tlp*
    • Bos: Halo…
    • Tamu: saya nanti dan rombongan datang jam 09.00
    • Bos: ooow… silahkan kita “sudah siap”, silahkan datang kami tunggu
    • Tamu: terima kasih…
  • </cut>
  • *devil mode on, here we go*
  • 07.30: siapkan materi buat presentasi, cari data ngalor ngidul, bongkar komputer kiri kanan demi foto
  • 09.30: macak rapi
  • 09.45: tamu datang
  • 10.00: sambutan, profil, pidato de el el
  • 11.00: antar tamu keliling
  • 12.00: makan siang sambil ramah tama
  • 13.00: tamu pulang
  • 14.00: kembali ke pekerjaan semula yang sempat tertunda
  • <cut>
    • krrrriiiiiiiinnngg…. *bunyi tlp lagi?*
    • Bos: halo…
    • Orang: laporan buat sekolah besok harus sudah dikirim ke surabaya
    • Bos: loh??? baik tunggu laporan dari kami, besok pagi kami kirim
    • Orang: jangan telad! *pake ‘D’ biar mantab*
    • Bos: baik
  • </cut>
  • *devil mode on, here we go again???*
  • 15.00: mengerjakan pekerjaan lain, cari data ngalor-ngidul lagi
  • 20.00: makan malam (ini waktu yang sangat spesial karena menunya spesial *yummy*)
  • 23.00: pulang kalau beruntung (biasanya sampai pagi juga, pulang bareng orang yang masang spanduk)

Sisi sehatnya sebelah mana? Dengan kerja model seperti itu kita menjadi tidak cepat bosan, karena banyak hal yang dikerjakan tidak sesuai dengan jadwal. Dan kita juga menemui banyak orang dengan karakter masing-masing yang menurut saya cukup menarik.

Data berjibun

Saya sekarang punya pekerjaan yang berbeda dari sebelumnya. Pekerjaan saya sebelumnya hanya duduk dan scripting sesuai dengan tenggat waktu dari perusahaan. Tetapi sekarang pekerjaan saya hanya menata dan mengatur data sehingga bila diperlukan tinggal diolah sesuai dengan kebutuhan, cukup jauh berbeda dengan pekerjaan sebelumnya.

Pertama kali saya masuk bekerja masuk pukul 6.30 dan pada hari pertama itu saya pulang pukul 10.45 di hari berikutnya. Menarik bukan? Saya dituntut untuk mengolah data yang sangat banyak. Data tersebut dalam bentuk file spreadsheet (xls) dan setiap filenya terdiri dari puluhan sheet.

Pada awalnya saya kira hal itu cukup mudah saya tinggal membuat tools untuk mengolah data tersebut, akan tetapi validitas data tersebut hampir semua patut dipertanyakan. Data antara satu orang dengan orang yang lain berbeda, ketika ditanya pasti jawabnya “loh saya ngopi dari situ”, dan orang satunya pasti menjawab “loh saya ngopi dari kamu”. Terdengar seperti terjebak di lingkaran setan!

Cerita lucu di balik data berjibun yaitu penamaan file seperti ini:

  • data.xls > databaru.xls > datapalingbaru.xls > datapalingbarubaru.xls > datapalinganyar.xls
  • data.xls > data=.xls > data==.xls > data===.xls > data====.xls
  • dataabsenkabehkelaslengkapbenggakangelnggoleki.xls, tapi ketika dibuka sheet-nya seperti isi martabak.

Dua minggu pertama saya mengatur format data dari penamaan file hingga penempatan dalam folder, dan seperti biasa pulang malam hari terkadan dini hari. Sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya tapi masih saja pulang ketika matahari sudah terbenam. Semoga saja kedepan sudah bisa pulang sesuai dengan yang ditentukan pukul 15.00.



↑ Top