Takut TOEFL?
Hari Senin 18 Februari 2008, guru Bahasa Jerman menghampiri saya dengan memberikan sebuah formulir untuk mengikuti ujian TOEFL (Test of English as a Foreign Language). Seperti mengikuti undian berhadiah yang tidak jelas, saya tidak sabar untuk mengikuti tes tersebut. Terakhir saya mengikuti tes ini tiga tahun lalu, sewaktu saya masih kuliah.
Cerita menarik dibalik ajakan untuk mengikuti TOEFL adalah ketika guru Bahasa Jerman memberikan formulir peserta ke saya dan meminta saya untuk mendata ulang beliau bercerita kalau guru-guru Bahasa Inggris menolak mengikuti TOEFL dengan alasan bahwa tes tersebut tidak resmi dan bukan benar-benar tes. Mereka mau mengikuti tes bila tes tersebut resmi dan benar-benar tes. Pada akhirnya dengan permasalahan tersebut tes ditund.
Takut mengikuti TOEFL? Harusnya mereka menganggap mengikuti tes tersebut seperti mengupil di bawah pohon ketika cuaca cerah. Dengan menego mereka sampai akhirnya Kepala Sekolah mengeluarkan perintah semua guru dan karyawan (yang mau) harus mengikuti tes tersebut. Permasalahannya tidak berhenti di situ, ketika saya diminta untuk membagi per ruang terdiri dari 20 orang banyak orang yang memilih ruang dengan alasan yang cukup menggelikan.
TOEFL sama dengan horror! TOEFL akhirnya jadi dilaksanakan pada hari jumat 29 Februari 2008. Ketika mengikuti tes, ekspresi guru Bahasa Inggris begitu gugup, tanpa senyum, dan hanya diam serius melihat soal-soal TOEFL. Sementara itu beberapa orang lainnya menganggap tes tersebut hanya candaan untuk mengisi waktu.
Kenapa guru Bahasa Inggris bersikap seperti itu? Saya jadi ingat buku yang berjudul The Little Prince. Di buku itu mengatakan bahwa orang dewasa itu rumit. Guru Bahasa Inggris hanya ingin menjaga omongan orang saja bila nilai mereka tidak begitu bagus. Ya memang seperti itu orang-orang di sini, bila kita menggeluti suatu bidang dan suatu saat kita gagal mengerjakannya. Semua pasti seperti menghujat dengan perkataan “halah, guru Bahasa Inggris aja nilainya segitu”. Seperti itulah orang dewasa itu rumit.

nengbiker
tes toeflku nda dikasi2in hasilnya dari kulia dulu. huh… jd penasaran…
March 3rd, 2008 at 3:55 pmkamu nilenya brp is?
saya
jes ga salah ta .. TOEFL atau TEOFL. Kalopas jamanku namanya TOEFL, kali dah diganti yak
*bingung*
March 4th, 2008 at 8:26 pmJauhari
Curhat Maneh?
Ijih Pak Guru!
March 5th, 2008 at 4:40 pmGuM
kalo untuk mahasa jawa, nama tesnya apa ya?
March 6th, 2008 at 5:46 pmsluman slumun slamet
madhep menduwur karo mrenges…
March 8th, 2008 at 1:40 amhubungi sajah KMRT Roy!
Arief Fajar Nursyamsu
Gimana ya seandainya guru yang ga mau ikut test atau nilainya ga cukup di-downgrade saja
March 11th, 2008 at 4:13 pmpika
alah TOEFL aja ditakutin, aku ga pernah takut tuh, soalnya dah sering banget ikutan dan alhamdulillah hasilnya selalu diatas 400, hueheheheheh…..
March 27th, 2008 at 9:21 pm*narsis mode on*