Isdah Ahmad

captured in fast script motion

Archive for March, 2008


Jangan meremehkan hal kecil

Kemarin saya mendapat kesempatan melihat dan mempelajari budaya Jepang, tapi tunggu dulu nanti saya ceritakan di postingan berikutnya. Postingan ini menceritakan persiapan perjalanan menuju tempat diselenggarakan Bunkasai X se-jatim di Blitar.

Kita rencananya berangkat dengan menyewa mobil Toyota Kijang, tetapi ketika saya mau mengambil mobil tersebut ternyata ada kendala teknis. Mobil tersebut tidak mau menyala, ternyata permasalahannya ada pada coil. Pemilik mobil beserta montirnya utak atik mobil tersebut dan mengganti dengan coil yang baru dibelinya. Tapi mobil tetap saja tidak mau berkutik. Akhirnya si montir mencoba coil usang asli dari mobil tersebut, dan seperti yang diduga mobil tersebut nyala *horeee*. Paling lucu ketika si montir tidak menemukan skrup coil dan dia nekat mengikat coil tersebut dengan seutas kabel.

Saya saat itu sudah merasa pasti ada masalah bila tetap memakai mobil itu. Karena saya tidak memiliki keahlian dalam hal teknis untuk urusan mesin mobil, wajar kalau saya bertanya “Mas, kalau ada masalah saya harus bagaimana?”. Si montir menjawab “Telpon aja mas, masa’ sini situ saja gag berani?”. Loh? Ini bukan masalah berani atau tidaknya, tapi anak-anak pada dikejar waktu untuk mengikuti lomba, kalau terjadi apa-apa di jalan bagaimana?

Hal yang ditakutkanpun terjadi, ketika saya dan Fenny sampai di rumah sensei mobil saya matikan dan tidak mau dinyalakan kembali. Padahal semua penumpang sudah siap di dalam mobil seperti mau take off. Solusi terakhir kita sewa mobil lain dan berangkat dari Malang pukul 08:15 terlambat dari waktu yang ditentukan jam 06:00.

Sampai sekarang saya masih jengkel ketika orang itu mengatakan “Masa’ sini situ saja gag berani” dengan nada sedikit mengejek. *dem*

Takut TOEFL?

Hari Senin 18 Februari 2008, guru Bahasa Jerman menghampiri saya dengan memberikan sebuah formulir untuk mengikuti ujian TOEFL (Test of English as a Foreign Language). Seperti mengikuti undian berhadiah yang tidak jelas, saya tidak sabar untuk mengikuti tes tersebut. Terakhir saya mengikuti tes ini tiga tahun lalu, sewaktu saya masih kuliah.

Cerita menarik dibalik ajakan untuk mengikuti TOEFL adalah ketika guru Bahasa Jerman memberikan formulir peserta ke saya dan meminta saya untuk mendata ulang beliau bercerita kalau guru-guru Bahasa Inggris menolak mengikuti TOEFL dengan alasan bahwa tes tersebut tidak resmi dan bukan benar-benar tes. Mereka mau mengikuti tes bila tes tersebut resmi dan benar-benar tes. Pada akhirnya dengan permasalahan tersebut tes ditund.

Takut mengikuti TOEFL? Harusnya mereka menganggap mengikuti tes tersebut seperti mengupil di bawah pohon ketika cuaca cerah. Dengan menego mereka sampai akhirnya Kepala Sekolah mengeluarkan perintah semua guru dan karyawan (yang mau) harus mengikuti tes tersebut. Permasalahannya tidak berhenti di situ, ketika saya diminta untuk membagi per ruang terdiri dari 20 orang banyak orang yang memilih ruang dengan alasan yang cukup menggelikan.

TOEFL sama dengan horror! TOEFL akhirnya jadi dilaksanakan pada hari jumat 29 Februari 2008. Ketika mengikuti tes, ekspresi guru Bahasa Inggris begitu gugup, tanpa senyum, dan hanya diam serius melihat soal-soal TOEFL. Sementara itu beberapa orang lainnya menganggap tes tersebut hanya candaan untuk mengisi waktu.

Kenapa guru Bahasa Inggris bersikap seperti itu? Saya jadi ingat buku yang berjudul The Little Prince. Di buku itu mengatakan bahwa orang dewasa itu rumit. Guru Bahasa Inggris hanya ingin menjaga omongan orang saja bila nilai mereka tidak begitu bagus. Ya memang seperti itu orang-orang di sini, bila kita menggeluti suatu bidang dan suatu saat kita gagal mengerjakannya. Semua pasti seperti menghujat dengan perkataan “halah, guru Bahasa Inggris aja nilainya segitu”. Seperti itulah orang dewasa itu rumit.



↑ Top