Isdah Ahmad

captured in fast script motion

Archive for May, 2008


Hei, ini kecelakaan kecil!

Malam hari ketika pulang dari kantor ada sebuah kecelakaan di pertigaan jalan depan pos polisi. Kebetulan saya lewat jalan itu, tak disangka ternyata yang mengalami kecelakaan adalah rekan kantor. Bukan sebuah kecelakaan besar, rekan saya jatuh dari motor karena terdorong sedikit dari belakang oleh sebuah mobil Honda Jazz. Si pengemudi mobil tersebut tidak sengaja menabrak/mendorong sedikit motor rekan saya karena adanya blind spot dari jendela mobil itu.

Saya langsung turun dari skuter tepat di tengah jalan untuk membantu rekan saya. Setelah saya papah ke tepi jalan langsung polisi menanyakan kejadian barusan. Si pengemudi mobil tersebut merasa kuatir dan menanyakan kondisi rekan saya.

Saya pribadi tidak terlalu kuatir dengan kejadian kecelakaan tersebut. Rekan saya hanya kaget dan sedikit trauma dari kecelakaan sebelumnya. Ada hal yang menarik hingga saya posting kejadian tersebut. Di lokasi kejadian ada beberapa warga sekitar yang ikut membantu rekan saya. Karena saya terlihat ikut nimbrung di lokasi hingga membuat dua orang warga penasaran dengan saya dan menanyakan relasi saya dengan rekan saya. Saya menjawab “dia teman satu kantor”, dua orang tersebut kemudian mengompori saya untuk meminta uang ganti rugi pada pemilik mobil tersebut. Terus terang saya jengkel mendengar kalimat mereka berdua.

Perlu diketahui si pemilik mobil tersebut orang cina dan dia memakai kalung dengan simbol agama. Padahal si pemilik mobil sudah meminta maaf karena tidak kesengajaan dia. Saya langsung mengatakan pada mereka berdua “Pak, sudahlah ini hanya kecelakaan kecil!”. Mereka berdua langsung pergi meninggalkan tempat. Setelah kondisi tenang, si pemilik mobil meminta maaf ke saya juga dan langsung memberikan uang ganti rugi.

Heran juga melihat orang yang masih bersikap sinis dengan perbedaan yang ada.

Shutter

Iya saya baru saja mendapatkan pacar. Dia akan menemani saya kemanapun saya berada. Cerita suka duka kami akan saya ceritakan dalam kategori shutter. Permasalahan pertama, siapa yang pantas dan berhak untuk berkenalan dengan kami? Saya sudah tidak sabar untuk waktu itu :D

Mental sebuah tandatangan

Kapan hari itu saya dipanggil seorang dan disodori selembar kertas. Sambil memberikan sebuah ballpoint beliau meminta saya untuk menandatangani kertas tersebut. Tentu saja urusan tanda tangan pasti urusan serius.

Ketika saya lihat lembaran itu tertera angka nominal, dan di sampingnya tertulis keterangan sebagai panitia sebuah acara *loh*. Sempat kaget juga, karena saya tidak merasa terlibat dalam kepanitian terlebih lagi tidak ada SK (Surat Keputusan) yang menunjuk saya sebagai panitia.

Melihat nilai nominal yang cukup besar dengan berat hati saya menolaknya. Kalau dilihat selintas apa beratnya tanda tangan, toh semua orang sepakat kalau saya masuk dalam kepanitian. Saat itu juga saya menjawab “Bu, yang layak dapat ini bukan saya, tapi orang yang ngerjakan” *sambil nunjuk orangnya*.

Beliau langsung bertanya “Loh emang status dia apa? kan disini cuman PKL”. Heran juga kenapa yang dilihat dari statusnya bukan dari kerjanya. Saya masih ngeyel bahwa saya tidak berhak menerima uang itu. Beliau malah menambahkan “Bos bilang kalau kamu berhak mendapatkan ini, soalnya sering membantu di ISO”. Eiiits… tapi ini anggaran untuk kepanitian itu, bukan untuk ISO. Bahkan di keterangan lembaran itu tidak tersebutkan urusan ISO. Sambil keluar dari ruangan saya mengacungkan jempol saya sambil berkata “itu bukan hak saya” ;)

Terkadang saya juga masih sering heran, karena kebiasaan sebagian kecil orang-orang tersebut menerima yang bukan haknya akhirnya hal tersebut seperti virus yang menular ke orang yang lain. Ya… ya… ya… bukannya saya sok suci, tapi kalau ingin membuat dunia lebih baik pasti di mulai dari sendiri *macak futurist*.

Moral op de stori: Curang sekali pasti akan curang selamanya



↑ Top