Isdah Ahmad

captured in fast script motion

Archive for July, 2008


Dilema sekolah gratis manis

Pernah dengar visi dan misi calon pemimpin yang salah satunya berisi “sekolah gratis”. Terus terang saya sangat setuju dengan hal itu. Walaupun banyak yang menolak dengan alasan bahwa membangun sekolah harus lewat mana? perekonomian sekolah bakal terancam?

Segala sesuatunya itu ada sisi postif dan negatifnya. Bisa jadi bila sekolah gratis, pemerintah akan memberikan kucuran dana yang lebih besar untuk membatu perekonomian sekolah walaupun “you know lah”.

Tapi ada sesuatu yang membuat saya pribadi merasa gimana gitu. Kita lihat dari sisi muridnya sendiri, semua guru pasti berharap muridnya mendapatkan yang terbaik. Sekarang sekolah masih bayar tapi murid ketika diajar ada yang ramai, ada yang OOT, ada yang ada ada aja. Seakan-akan mereka tidak merasa orang tua yang jerih payah menyekolahkan anaknya hanya untuk formalitas, dalam artian “cangkruk ndek sekolahan ben ketok lek sekolah” (red: nongkrong di sekolahan biar kelihatan kalau sekolah).

Lah… kalau sekolah gratis? mereka bisa jadi seperti apalagi?

Postingan ini sekedar meluangkan waktu lima menit lagi sebelum mengajar ;)

Asiknya memberi pengalaman

Kemarin iseng-iseng ngajak teman dari jauh untuk mencicipi masakan dari negeri sebelah. Eh sebetulanya mereka sudah lama tinggal di Malang, sekedar tinggal dan bekerja tanpa mencoba kuliner yang ada di sekeliling kota.

Awalanya ingin mengajak mereka makan Suki, tapi seperti masakan tersebut bakalan terasa asing bagi mereka. Berpikir sejenak akhirnya saya mengajak mereka makan Pizza, tanpa pikir panjang langsung berangkat ke Papa Ron’s Pizza.

Banyak hal yang menurut saya sedikit menggelitik. Dari empat orang yang saya ajak secara bersamaan mereka bertanya “Mas, nggone lesehan ndek endi?” (red: Mas, tempat lesehan di mana?). Lesehan? Wah sori Mba’e di sini tidak ada lesehan. Sedikit berdiskusi mereka langsung memberi usul “Mas, njaluk kloso ae, nggawe lesehan dewe. Sebelahe kolam iku loh enak gawe lesehan” (red: Mas, minta karpet aja buat lesehan sendiri. Sebelahnya kolam itu enak buat lesehan). *Gludak* Saya langsung diam sejenak dan menjawab “Makan di pizza lebih enak di meja (imho), belum pernah nyobakan? Ntar klo gag cocok, kita bikin lesehan”. Mereka berempatpun setuju dengan pendapat saya.

Sampai di meja, pelayan menyodorkan menu. Kemudian saya bilang ke mereka silahkan mencoba yang diinginkan. Jangan sungkan dan jangan takut mencoba. Tanpa pikir panjang mereka satu persatu memilih sambil berdiskusi dengan pelayan. Dalam hati “busyet, pesen sgitu banyak perutnya kaya’ apa? Aryo wannabe?”

Dan akhirnya hidanganpun datang diiringi kekagetan mereka yang melihat begitu banyaknya pesanan. Saya hanya bisa bilang “Hayoo, tanggung jawab!!!”. Sedikit demi sedikit mereka menikmati hidangan yang bisa dibilang baru pertama bagi mereka, dan mereka suka sekali. Walaupun pada akhirnya masih tersisa utuh dua porsi pizza ukuran besar.

Sambil menikmati hidangan penutup sayapun bertanya pada mereka “Jadi lesehan?”. Kontan aja mereka tertawa terpingkal-pingkal sambil bilang “Yow, gag cocok panganan ngene digawe lesehan” (red: Ya tidak cocok makanan seperti ini dinikmati sambil lesehan).

Setelah selesai, kitapun pulang dan mereka membawa pengalaman yang cukup berharga yang dapat diceritakan ke teman, saudara atau keluarga mereka.

Eeeeiit… saya dapat bonus tuh dari cerita di atas, waktu pulang dapat ce yang mau diajak jepret hohoho… >:)

Pak Guru wannabe

Di suatu pagi hari yang cerah. Kebetulan juga kota Malang di bulan Juli sampai Agutus menujukan hawa dingin seperti ketika di tahun 80′an, tapi yang berbeda ialah tidak ada kabut yang menyelimuti.

Sekolah saat itu berjalan seperti biasanya, kesibukan yang saya lakukanpun sama seperti hari-hari biasanya. Namun hal yang berbeda, beberapa orang menyapa saya dengan sapaan “Pagi, Pak Guru”. Loh kapan ditunjuk jadi gurunya?

Karena penasaran sayapun iseng ikutan rapat dinas untuk koordinasi. Beberapa saat kemudian ada Ibu Guru yang menunjukan saya kumpulan SK (Surat Keterangan) *kaget*. Ternyata saya diberi jatah mengajar seluruh kelas X dan kelas XI khusus SBI. Total jam mengajar sebanyak 22jam *tepok jidat*.

Rumornya guru baru tidak pernah mendapat jam sebanyak itu. Tapi mau bagaimana lagi, demi anak bangsa *macak jadi oemar bachrie*

*eng ing eng* besok pagi sudah mulai mengajar.

Sidoarjo Street Photograph

Narsis, Photo By Meru
Asik juga street hunting di kota Sidoarjo :D
Gag rugi jauh-jauh dari Malang naik kereta, dapet bonus hunting di dalam kereta juga.

(more…)

Kadang orang gila, kadang wartawan

Jadi fotografer wannabe itu tantangannya banyak, salah satunya waktu jalan trus ngliatin ce buat ajakin jadi model foto. Si ce pasti bilang “iih orang gila, ngliatin aku seperti itu!” *ngakak* eh ini persenel eksperien. Trus kalo si ce mau difoto, adoh doh doh *macak gaya ferdi* personal approacing-nya sulitnya minta ampun. Klo udah satu sesi, ealah malah ketagihan *tepok jidat* salah satu korbannya ntar deh aku aplot. Sekarang dia setiap ketemu pasti minta difoto.

Lain lagi klo kita street photograph, kita kudu ramah dengan orang sekitar ibaratnya soul kita menyatu dengan atmosfir mereka. Jepret kanan kiri ealah dipanggil sama orang sekitar wartawan *ngakak*.

Ntah aku dapat julukan apalagi klo waktu pegang kamera. Eh ini postingan iseng loh *ngakak*



↑ Top