Isdah Ahmad

captured in fast script motion

July 25, 2008

Dilema sekolah gratis manis

Pernah dengar visi dan misi calon pemimpin yang salah satunya berisi “sekolah gratis”. Terus terang saya sangat setuju dengan hal itu. Walaupun banyak yang menolak dengan alasan bahwa membangun sekolah harus lewat mana? perekonomian sekolah bakal terancam?

Segala sesuatunya itu ada sisi postif dan negatifnya. Bisa jadi bila sekolah gratis, pemerintah akan memberikan kucuran dana yang lebih besar untuk membatu perekonomian sekolah walaupun “you know lah”.

Tapi ada sesuatu yang membuat saya pribadi merasa gimana gitu. Kita lihat dari sisi muridnya sendiri, semua guru pasti berharap muridnya mendapatkan yang terbaik. Sekarang sekolah masih bayar tapi murid ketika diajar ada yang ramai, ada yang OOT, ada yang ada ada aja. Seakan-akan mereka tidak merasa orang tua yang jerih payah menyekolahkan anaknya hanya untuk formalitas, dalam artian “cangkruk ndek sekolahan ben ketok lek sekolah” (red: nongkrong di sekolahan biar kelihatan kalau sekolah).

Lah… kalau sekolah gratis? mereka bisa jadi seperti apalagi?

Postingan ini sekedar meluangkan waktu lima menit lagi sebelum mengajar ;)


10 Responses to “Dilema sekolah gratis manis”

  1. ferdhie says:

    sama seperti kuliah/milis/komunitas lain.
    wajar.

  2. hmmm… bisa dipertimbangkan

  3. nengbiker says:

    sabar ya pak guru

  4. Johan says:

    Kalau digratisin, ntar malah belajarnya jadi semaunya. Wong sekolah gratis koq. Tapi kalau dijadikan mbayar, malah tarifnya dijadikan tinggi banget. Wis…, bingung dan mumet.

  5. Jauhari says:

    Semua ada resikonya…. coba tengok NEGARA NEGARA yang MENGGRATISKAN SEKOLAH apa juga seperti di INDONESIA….

    Sepertinya ini tidak hanya GRATIS atau TIDAK tapi pada KEBIASAAN yang seperti itulah keadaanya…

  6. noki says:

    cos yang mau pinter minoritas, mayoritas cuma mengikuti arus, makanya yang berprestasi dikit musti dapat bantuan dari yang lain untuk dapat berkarya

  7. saya says:

    wong arep ngajar yo sik sempet2e onlen

  8. Iya, kalau pengadaan program seperti itu dilakukan dengan asal-asalan dan tidak di dukung oleh seluruh aspek maupun aparatur pelaksananya. Tidak, jika program tersebut dijalankan dengan sungguh-sungguh, penuh pengabdian, dan dedikasi dari aparatur pemerintah yang ada.

  9. Rachmansyah says:

    Dilematis memang. Tidak kita pungkiri bahwa selama ini banyak terjadi pungutan2 di sekolah. Nah kalau sekolah gratis,otomatis para guru tidak lagi bisa melakukan hal itu, ini akan berdampak buruk terhadap kinerjanya. Ketika kualitas sekolahnya jelek, dan ketika orang tua protes, bisa saja pihak sekolah bilang “Sekolah gratis aja kok minta ini itu,kalo mau bagus sana masuk sekolah SSN atau SBI yang bayar”.
    Di daerah saya saja, jelas2 gubernurnya telah mencanangkan sekolah gratis, hasilnya apa? Dari 22 SMU yang ada, hanya 3 SMU yang mendukung sekolah gratis,selebihnya mengejar SSN atau SBI. Dilematis memang, pihak sekolah saja tidak mendukung. Pertanyaannya kenapa? Mungkin saja subsidi pemerintah kurang, bisa saja jadi tertutupnya pungutan2 selama ini, dll.

  10. liya says:

    sekolah gratis memang bagus, tp tidak cukup hanya menggratiskan spp. biaya yang lain justru yang mencekik rakyat kecil seperti buku, perlengkapan sekolah dll. jadi meurut saya lebih baik beasiswa untuk anak miskin yang diperbanyak..

Leave a Reply




Back to top