Isdah Ahmad

captured in fast script motion

Archive for July, 2008


Selamat Jalan Oom Eko Widyatmoko

Photo by Rony Rusdiansyah

Innalillahi wainaillaihi raji’un, Telah meninggal dunia, sahabat kami Eko Widyatmoko, Minggu 6 Juli 2008 sekitar jam 5 sore di RS Saiful Anwar Malang.

Photo by Mukti Echwantono

Beliau adalah seorang fotografer senior di Kota Malang. Saya sempat bertemu beliau ketika sharing loundry yang bertempat di tempat Oom Benny aka Pak Puh. Beliau bercerita tentang kecanggihan Kamera Medium Format, sambil membawa kamera Yashica 635 warisan Ayahanda. Setelah sharing beliau bercerita pengalamannya ketika bekerja di kota Jakarta, ketika beliau memfoto calon-calon artis. Sungguh pengalaman yang mengagumkan. Tidak hanya itu saja, beliau juga lihai memainkan gitar akustik. Saya ingat ketika beliau memainkan lagu Antonio Song.

Namun cukup disayangkan, itu pertemuan pertama dan terakhir saya dengan beliau. Padahal saya berharap dapat hunting dengan beliau menggunakan kamera analog saya.

Photo by Mukti Echwantono

Selamat jalan Oom Eko, terima kasih buat pengalaman dan ilmu yang diberikan.

Being Social Smoker

Terus terang saya bukan perokok terlebih lagi saya benci bau asap rokok. Saya mencoba untuk menghidar dari asap rokok walaupun terhitung cukup sulit karena teman saya kebanyakan perokok aktif. Pernah saya bertanya kepada perokok “apa seeh enaknya merokok?”. Mereka dengan tegas mengatakan “coba dulu, baru tau dimana enaknya”.

Karena capek untuk melarang seseorang merokok dan kata hati ingin sekali mencium udara yang segar dan bebas asap rokok, saya memutuskan untuk menjadi seorang perokok untuk mencari sela untuk memberikan alasan kepada mereka.

Sudah dua bulan saya menjadi seorang social smoker, seseorang yang merokok ketika berada di dalam lingkungan perokok. Tapi heran, sampai detik ini saya masih belum bisa mengatakan enaknya merokok ada dimana? Berbagai cara merokok sudah saya coba, namun hanya rasa sakit aja yang tersisa.

Kapan hari membaca blog dodi tentang Renungan Dahsyat Soal Rokok dan Kecupuan. Kemudian saya mendiskusikan dengan rekan saya seorang pecandu rokok berat. Beliau mengatakan bahwa merokok itu enaknya ketika sedang termenung, memikirkan sesuatu atau sedang refreshing di pegunungan. Tanpa pikir panjang sayapun mencoba melakukan hal itu. Tapi sayang saya masih juga belum menemukan rasa nikmat dari rokok.

Aaah… rokok? hanya orang bodoh saja merokok, rasanya loh cuman ada sakit dan sesak saja. Setelah posting blog ini saya memutuskan untuk berhenti merokok.

Photographer atau Photoshoper?

Kemarin sempat berdiskusi dengan para senior fotografer di kantor Omah[plus]. Diskusi dagelan ala warung kopi itu dimeriahkan oleh Teddy Soumokil (CEO Omah[plus]), Handa, Yuan, dan saya. Pada awalnya Pak Teddy membuka ajang diskusi dengan topik “kiri atau kanan buat ngeker?”. Silang pendapat antara penggunaan mata kiri dan mata kanan, sebagian besar orang ngeker lewat view finder menggunakan mata kanan dan sambil menutup mata kiri. Ada juga yang suka ngeker dengan mata kiri. Herannya, orang yang ngeker dengan mata kanan, mata kiri pasti merem. Tapi orang yang ngeker dengan mata kiri, mata kanan masih tetap terbuka. Bukan diskusi seriuskan? :d

Hari semakin sore, topikpun berganti menjadi “Bagaimana memfoto yang benar?”. Lah dari topik itu saya baru mendengar istilah “Photographer atau Photoshoper” dari Pak Teddy. Istilah tersebut ada karena kebiasaan kita meng-edit foto menggunakan Adobe Photosop. Kalau foto kita sudah benar dari awal, maka tidak perlu dilakukan editing lagi. Tapi bila dari awal foto kita kurang benar, sebalikanya editing yang diperlukan sangat banyak. Foto tersebut jadi tidak natural lagi. Fotografer yang sejati katanya hampir tidak melakukan editing foto atau paling banyak just crop and resize.

Dari situ saya jadi ingat perkataan Oom Benny aka Pak Puh yang selalu mengatakan “Apaan tuh OLDIG (Olah Digital)?”.

Good things come to those who wait

Dapat judul di atas dari sini DPS. Dalam urusan jeprat-jepret saya tergolong orang yang tidak sabaran. Alasannya saya takut ketinggalan moment. Berbeda dengan senior saya seperti Mas Meru, dalam sesi “Street Photograph” beliau sangat memperhatikan segala sesuatunya.

Apa saja yang diperhitungkan oleh dia? Katanya loh yang pertama dia lakukakan memilih object yang akan difoto kemudia dia set semua dari framming, aperture & speed. Setelah siap baru dia menunggu object yang pas. Semua yang dilakukan itu bisa sampai 15 menitan. Kalau ditanya hasil jepretannya, maknyuuusss…

Ada dua tipe fotografer kalau urusan tunggu menunggu:

  1. Hemat shutter, biasanya fotografer dengan tipe ini perhitungannya sudah tingkat tinggi bisa dibilang profesional. Ada juga yang bilang fotografer tipe ini kameranya sudah buntut alias shutter sudah sering nyanthol.
  2. Boros shutter, kalau fotografer yang ini jepret setiap ada kesempatan tentu saja perhitungan averture, speed masih perlu. Untuk urusan framming dan moment, ntar di akhir jepretan dia tinggal main hapus atau simpan. Tentu saja ini bagi yang kameranya masih sehat.

Kalau saya pribadi masih tergolong newbie, jadi jepret setiap ada kesempatan sambil berguru pada yang senior. Setelah membaca artikel mengenai Patience and Photography, hmm… mulai besok setiap jepret harus penuh perhitungan, bukan biar kamera awet tapi untuk hasil yang terbaik memang perlu perhitungan dan kesabaran.

MIA: De Kodok

MIA (Missing In Action): a combatant who has not returned from war and is unaccounted for.

Aku punya sebuah tas Lowepro tipe Nova 4 AW biasanya ada gantungan boneka kecil berbentuk kodok (skrinsyut menyusul). Kesan awal yang ditunjukkan memang terlihat childish banget, sudah orangnya gede + cabi, item, nggantheng sangar koq bawa boneka kodok? Hehehe… oke lah itu pendapat dari sisi katakanlah “A”. Kalau dari sisi “B”, aku tuh orangnya gampang terlupakan dikeramaian jadi perlu sebuah identity “Hey, I’m here”.

Hari senin kebetulan iseng bikin sesi foto di Kedai 27 yang didekor menjadi sebuah studio foto. Modelnya ce biasa yang di-make over oleh Chacha, hingga dia menjadi terlihat spesial. Wah kalau cerita mengenai sesi foto ini ntar dipostingan setelah ini.

Setelah acara berakhir, saya pulang dan *speechless* De Kodok tidak bergelantungan di tasku. Pasti ada yang mengambil tidak mungkin jatuh begitu saja. Aku langsung SMS teman yang mengambil De Kodok. Aku SMS dia tidak hanya sekali saja, nampaknya tidak ada tanggapan yang positif.

Orang kadang melihat dari sisi dia bahwa itu barang tidak berguna bagi yang punya hanya hiasan saja. Padahal dari sisi aku, ada cerita, kenangan atau biasa disebut “The Story Within” dari negeri seberang sewaktu aku mencoba untuk mengembara *halah*.

Aaaarrrgghh… gara” itu moodku untuk memfoto menjadi hilang, tapi sudahlah mau gimana lagi. Kita ambil dari sisi positif saja, dia lebih membutuhkan itu dari pada aku. Omong-omong kenapa dia gag ngambil yang punya saja daripada kodoknya?

*tendang” fia!!!*



↑ Top