Panggil aku aaah!
Kuliah datang terlambat, hari sebelumnya dengan mata kuliah yang sama saya berhalangan datang dikarenakan masih ada tanggungan mengajar di beberapa kelas. Sebelum masuk ruang 2105 saya mengintip untuk melihat situasi dan kondisi, otak memerintahkan saya untuk langsung masuk dan mengambil tempat di depan.
“kenak kamuh” , beberapa orang berbisik menandakan bahwa saya akan mendapat suatu hukuman dari Profesor I Nyoman Sudana yang mengajar. Dan tidak salah profesor langsung melirik saya dan menanyakan “Saudara tidak salah kelas?”. Err… *berpikir sejenak* dan saya langsung menjawab “Tidak Prof, saya tidak salah kelas”. Beliau balik bertanya “Yakin? Saudara tidak salah kelas?”, dan saya menjawab sekali lagi “Saya yakin dan tidak salah kelas”. Profesor kemudian mempersilahkan saya untuk mengikuti kelas beliau.
Selang beberapa saat, Profesor bertanya pada saya “Siapa namamu?”. Saya menjawab “Isdah Ahmad”, kemudian dengan raut muka yang khas membuat satu kelas tertawa karena nama saya. Profesor meminta saya untuk mengganti nama saya dengan satu suku kata. *garuk-garuk* beliau berkata “aku panggil kau dengan Aaah”. Pada awalnya saya kurang setuju dengan beliau, saya langsung bertanya alasan dipanggil Aaah.
Kemudian beliau menjelaskan bahwa semua yang ada dikelas sudah memakai satu suku kata untuk namanya. Hal itu dilakukan hanya untuk mengajarkan kita berpikir ke “dunia lain”.
Kita tahu dan terbiasa memakai nama kita seperti apa adanya dari lahir, tetapi ketika kita dipanggil atau diberi nama yang ganjal menurut kita, perasaan kita pasti akan berbeda. Lah karena profesor tersebut mengajarkan tentang “dunia lain”, otomatis semua semua hal harus diset untuk “dunia lain”.
Bingung? sama saya juga bingung dari penjelasan profesor tersebut. Namun saya menyadari ketika profesor memberikan satu kasus dan memberikan pertanyaan-pertanyaan ke kami. Manusia diberi akal pikiran untuk dapat berpikir lebih dari yang ada, namun ketika menghadapi pertanyaan profesor tersebut jangan harap kamu dapat berpikir lebih. Setiap jawaban pasti dibatasi oleh ya atau tidak. Alasan panjang yang kamu ceritakan tidak akan ada artinya.
Ternyata dalam sempitnya ruang yang diberikan untuk berargumen kita dipaksa untuk dapat berpikir the big frame dalam setiap masalah. Hasilnya memang benar bahwa kita berdiskusi tentang dunia lain. Dunia di luar realitas apa yang kita lihat dan rasakan.
Yang menjadi lebih menarik kuliah ini ibarat obrolan warung kopi tanpa kopi, dan semua yang hadir hanya mempunyai nama satu suku kata.

Jauhari
Is juga keren loh.. atau Mad….
August 27th, 2008 at 5:04 pmmalik
Aku pernah sua cewek di ITB anak FARMASI (asal Jakarta), salah satu kata di namanya=kamu, tapi nickname-nya beliau di kampus: au’. Dan aku lebih suka memnaggil beliau dengan Liya, coz beliau cewek
August 27th, 2008 at 8:50 pmario saja
woooo… giman rasanya di ajar ma profesor mas ?? beda gak di ajar ma dosan yang bukan profesor
August 28th, 2008 at 8:28 amnengbiker
boleh ikut kulia ga?
August 28th, 2008 at 6:06 pm