Bolo gag bolo
Waktu jalan pulang dari kampus lewat krumunan anak kecil yang lagi maen jumpritan-singit alias petak umpet. Langsung aja aku berhenti melihat sejenak mereka bermain. Sewaktu membagi menjadi dua kelompok mereka menyanyikan lagu yang tidak asing bagiku, seperti ini:
Bolo gag bolo
Gag oleh njae
Gag oleh pilih kasih
Pilih kasih dibuyari
Kalau versi indonesia mungkin seperti ini:
Teman gag teman
Gag boleh ngambek
Gag boleh pilih kasih
Pilih kasih dipecat *err… mekso*
Entah siapa yang membuat lagu itu, tapi turun menurun hampir semua anak kecil ketika bermain dan membagi kelompok pasti hom-pim-pa sambil menyanyikan lagu tersebut.
Kalau memberikan tugas ke murid biasanya aku suruh mereka mengerjakan secara berkelompok. Karena menurutku hasilnya lebih kreatif dan imajinatif. Awalnya aku sering menawarkan pada mereka “kelompoknya dipilihkan atau pilih sendiri”. Pasti jawabannya 90% menginginkan memilih kelompok sendiri.
Alasannya juga cukup beragam, ada yang bilang kalau rumahnya satu wilayah, ada yang bilang juga kalau lebih dekat dengan temannya pilihannya sendiri karena ngobrol lebih nyambung dan mereka lebih nyaman.
Sekarang kalau melihat di sisi aku sendiri, aku lebih suka bentuk kelompok yang random. Dengan alasan aku bisa mengenal orang baru itu. Kalau seumpama aku atau dia tidak saling cocok bagaimana? Menurutku aku harus menyelesaikan tugas itu tanpa melihat emosi yang ada. Toh di sana juga aku belajar lebih dan mendapatkan pengalaman lebih.
Jadi? Bolo gag bolo tetep konco toh…

eh om, foto2 bukbernya mana?
wis ta aplot ngunu loh…
jadi ingat jaman SD
aku juga setuju random, walau kadang berarti harus ribet dulu berusaha mengenal mereka lebih dekat
tak kenal maka tak sayang hihihihi…
Pok pok pok,, dem dem dem..
Ji walang kaji koko’ belok.. dem dem dem..
cang kacang lombok abang melungker.
Siti nang kali.
Bagong nang embong.
Siti njaluk rabi diolehno asu baong.
A : Adi, B : Bobi, C : Cicak,
Rhoma Irama raja dangdut.
Plekenuutt..