Isdah Ahmad

captured in fast script motion

Archive for the ‘Blog’


Asiknya memberi pengalaman

Kemarin iseng-iseng ngajak teman dari jauh untuk mencicipi masakan dari negeri sebelah. Eh sebetulanya mereka sudah lama tinggal di Malang, sekedar tinggal dan bekerja tanpa mencoba kuliner yang ada di sekeliling kota.

Awalanya ingin mengajak mereka makan Suki, tapi seperti masakan tersebut bakalan terasa asing bagi mereka. Berpikir sejenak akhirnya saya mengajak mereka makan Pizza, tanpa pikir panjang langsung berangkat ke Papa Ron’s Pizza.

Banyak hal yang menurut saya sedikit menggelitik. Dari empat orang yang saya ajak secara bersamaan mereka bertanya “Mas, nggone lesehan ndek endi?” (red: Mas, tempat lesehan di mana?). Lesehan? Wah sori Mba’e di sini tidak ada lesehan. Sedikit berdiskusi mereka langsung memberi usul “Mas, njaluk kloso ae, nggawe lesehan dewe. Sebelahe kolam iku loh enak gawe lesehan” (red: Mas, minta karpet aja buat lesehan sendiri. Sebelahnya kolam itu enak buat lesehan). *Gludak* Saya langsung diam sejenak dan menjawab “Makan di pizza lebih enak di meja (imho), belum pernah nyobakan? Ntar klo gag cocok, kita bikin lesehan”. Mereka berempatpun setuju dengan pendapat saya.

Sampai di meja, pelayan menyodorkan menu. Kemudian saya bilang ke mereka silahkan mencoba yang diinginkan. Jangan sungkan dan jangan takut mencoba. Tanpa pikir panjang mereka satu persatu memilih sambil berdiskusi dengan pelayan. Dalam hati “busyet, pesen sgitu banyak perutnya kaya’ apa? Aryo wannabe?”

Dan akhirnya hidanganpun datang diiringi kekagetan mereka yang melihat begitu banyaknya pesanan. Saya hanya bisa bilang “Hayoo, tanggung jawab!!!”. Sedikit demi sedikit mereka menikmati hidangan yang bisa dibilang baru pertama bagi mereka, dan mereka suka sekali. Walaupun pada akhirnya masih tersisa utuh dua porsi pizza ukuran besar.

Sambil menikmati hidangan penutup sayapun bertanya pada mereka “Jadi lesehan?”. Kontan aja mereka tertawa terpingkal-pingkal sambil bilang “Yow, gag cocok panganan ngene digawe lesehan” (red: Ya tidak cocok makanan seperti ini dinikmati sambil lesehan).

Setelah selesai, kitapun pulang dan mereka membawa pengalaman yang cukup berharga yang dapat diceritakan ke teman, saudara atau keluarga mereka.

Eeeeiit… saya dapat bonus tuh dari cerita di atas, waktu pulang dapat ce yang mau diajak jepret hohoho… >:)

Pak Guru wannabe

Di suatu pagi hari yang cerah. Kebetulan juga kota Malang di bulan Juli sampai Agutus menujukan hawa dingin seperti ketika di tahun 80′an, tapi yang berbeda ialah tidak ada kabut yang menyelimuti.

Sekolah saat itu berjalan seperti biasanya, kesibukan yang saya lakukanpun sama seperti hari-hari biasanya. Namun hal yang berbeda, beberapa orang menyapa saya dengan sapaan “Pagi, Pak Guru”. Loh kapan ditunjuk jadi gurunya?

Karena penasaran sayapun iseng ikutan rapat dinas untuk koordinasi. Beberapa saat kemudian ada Ibu Guru yang menunjukan saya kumpulan SK (Surat Keterangan) *kaget*. Ternyata saya diberi jatah mengajar seluruh kelas X dan kelas XI khusus SBI. Total jam mengajar sebanyak 22jam *tepok jidat*.

Rumornya guru baru tidak pernah mendapat jam sebanyak itu. Tapi mau bagaimana lagi, demi anak bangsa *macak jadi oemar bachrie*

*eng ing eng* besok pagi sudah mulai mengajar.

Sidoarjo Street Photograph

Narsis, Photo By Meru
Asik juga street hunting di kota Sidoarjo :D
Gag rugi jauh-jauh dari Malang naik kereta, dapet bonus hunting di dalam kereta juga.

(more…)

Kadang orang gila, kadang wartawan

Jadi fotografer wannabe itu tantangannya banyak, salah satunya waktu jalan trus ngliatin ce buat ajakin jadi model foto. Si ce pasti bilang “iih orang gila, ngliatin aku seperti itu!” *ngakak* eh ini persenel eksperien. Trus kalo si ce mau difoto, adoh doh doh *macak gaya ferdi* personal approacing-nya sulitnya minta ampun. Klo udah satu sesi, ealah malah ketagihan *tepok jidat* salah satu korbannya ntar deh aku aplot. Sekarang dia setiap ketemu pasti minta difoto.

Lain lagi klo kita street photograph, kita kudu ramah dengan orang sekitar ibaratnya soul kita menyatu dengan atmosfir mereka. Jepret kanan kiri ealah dipanggil sama orang sekitar wartawan *ngakak*.

Ntah aku dapat julukan apalagi klo waktu pegang kamera. Eh ini postingan iseng loh *ngakak*

Selamat Jalan Oom Eko Widyatmoko

Photo by Rony Rusdiansyah

Innalillahi wainaillaihi raji’un, Telah meninggal dunia, sahabat kami Eko Widyatmoko, Minggu 6 Juli 2008 sekitar jam 5 sore di RS Saiful Anwar Malang.

Photo by Mukti Echwantono

Beliau adalah seorang fotografer senior di Kota Malang. Saya sempat bertemu beliau ketika sharing loundry yang bertempat di tempat Oom Benny aka Pak Puh. Beliau bercerita tentang kecanggihan Kamera Medium Format, sambil membawa kamera Yashica 635 warisan Ayahanda. Setelah sharing beliau bercerita pengalamannya ketika bekerja di kota Jakarta, ketika beliau memfoto calon-calon artis. Sungguh pengalaman yang mengagumkan. Tidak hanya itu saja, beliau juga lihai memainkan gitar akustik. Saya ingat ketika beliau memainkan lagu Antonio Song.

Namun cukup disayangkan, itu pertemuan pertama dan terakhir saya dengan beliau. Padahal saya berharap dapat hunting dengan beliau menggunakan kamera analog saya.

Photo by Mukti Echwantono

Selamat jalan Oom Eko, terima kasih buat pengalaman dan ilmu yang diberikan.



↑ Top