Isdah Ahmad

captured in fast script motion

Archive for the ‘Blog’


in action

Ya… ini foto klo lagi hunting, gilak yaa… kekeke…

Photo by Arie Prasetyo

Photo by Arie Prasetyo

Photo by Dwi Maya Sari, Mays

Panggil aku aaah!

Kuliah datang terlambat, hari sebelumnya dengan mata kuliah yang sama saya berhalangan datang dikarenakan masih ada tanggungan mengajar di beberapa kelas. Sebelum masuk ruang 2105 saya mengintip untuk melihat situasi dan kondisi, otak memerintahkan saya untuk langsung masuk dan mengambil tempat di depan.

“kenak kamuh” , beberapa orang berbisik menandakan bahwa saya akan mendapat suatu hukuman dari Profesor I Nyoman Sudana yang mengajar. Dan tidak salah profesor langsung melirik saya dan menanyakan “Saudara tidak salah kelas?”. Err… *berpikir sejenak* dan saya langsung menjawab “Tidak Prof, saya tidak salah kelas”. Beliau balik bertanya “Yakin? Saudara tidak salah kelas?”, dan saya menjawab sekali lagi “Saya yakin dan tidak salah kelas”. Profesor kemudian mempersilahkan saya untuk mengikuti kelas beliau.

Selang beberapa saat, Profesor bertanya pada saya “Siapa namamu?”. Saya menjawab “Isdah Ahmad”, kemudian dengan raut muka yang khas membuat satu kelas tertawa karena nama saya. Profesor meminta saya untuk mengganti nama saya dengan satu suku kata. *garuk-garuk* beliau berkata “aku panggil kau dengan Aaah”. Pada awalnya saya kurang setuju dengan beliau, saya langsung bertanya alasan dipanggil Aaah.

Kemudian beliau menjelaskan bahwa semua yang ada dikelas sudah memakai satu suku kata untuk namanya. Hal itu dilakukan hanya untuk mengajarkan kita berpikir ke “dunia lain”.

Kita tahu dan terbiasa memakai nama kita seperti apa adanya dari lahir, tetapi ketika kita dipanggil atau diberi nama yang ganjal menurut kita, perasaan kita pasti akan berbeda. Lah karena profesor tersebut mengajarkan tentang “dunia lain”, otomatis semua  semua hal harus diset untuk “dunia lain”.

Bingung? sama saya juga bingung dari penjelasan profesor tersebut. Namun saya menyadari ketika profesor memberikan satu kasus dan memberikan pertanyaan-pertanyaan ke kami. Manusia diberi akal pikiran untuk dapat berpikir lebih dari yang ada, namun ketika menghadapi pertanyaan profesor tersebut jangan harap kamu dapat berpikir lebih. Setiap jawaban pasti dibatasi oleh ya atau tidak. Alasan panjang yang kamu ceritakan tidak akan ada artinya.

Ternyata dalam sempitnya ruang yang diberikan untuk berargumen kita dipaksa untuk dapat berpikir the big frame dalam setiap masalah. Hasilnya memang benar bahwa kita berdiskusi tentang dunia lain. Dunia di luar realitas apa yang kita lihat dan rasakan.

Yang menjadi lebih menarik kuliah ini ibarat obrolan warung kopi tanpa kopi, dan semua yang hadir hanya mempunyai nama satu suku kata.

Kopdar Plunkers yuuuk!

Daftar dulu dunk neeh linknya: http://www.plurk.com/m/p/2r19t

Narsis

IMG_6127 copy.jpg by you.

Hayooo… sapa yang sering telp, ye-em ke aku minta fotoku? neeh… fotoku paling gresewesewes… jepret kemaren waktu barko di matahari elektronik lantai 2. Silahkan disimpan dan dijadikan wolpepa di komputer atau komputer jinjing kalean! *kabuuuur…*

Salahkan dirimu bila kamu menjadi penjahat

Kadang heran melihat orang jadi seorang penjahat. Ketika ditanya kenapa mereka menjadi seorang penjahat? Mereka menjawab karena tinggal di lingkungan yang mendukung dia menjadi seorang penjahat, ada lagi yang menjawab dia menjadi penjahat gara-gara orang tuanya. Lebih konyol lagi ketika ada yang menjawab dikarenakan gurunya? *loh*. Mana ada seorang guru yang ingin anak didiknya menjadi seorang penjahat? Menjadi seorang penjahat itu pilihan sendiri!

Jangan salahkan orang lain, orang tuamu, atau gurumu bila kamu jadi penjahat. Salahkan dirimu sendiri!



↑ Top