Isdah Ahmad

captured in fast script motion

Archive for the ‘Iseng’


Selamat Tahun Baru 2010

Selamat Tahun Baru 2010 semua teman-temanku, aku harap di tahun ini banyak kejutan yang menyenangkan. Dan wishlistku tahun 2009 kemarin sepertinya yang jadi prioritas baru beberapa terkabul uhuuuiy.. *alhamdulillah* Jadi sekarang prioritas wishlist di tahun 2010 adalah.. eng.. ing.. eng.. tunggu saja..

*membuat daftar panjang*

Macak Guru – Guru & Mata Pelajaran

Hehe.. curcol aah.. :roll:

Ini udah tahun kedua aku macak jadi guru. Klo ditanya alasan aku menjadi guru, sampe sekarang bingung juga harus jawab apa. Dibilang kebetulan juga bukan, dibilang pengen juga bukan. Tapi ya pada akhirnya dijalani juga, dan karena kuliahnya gag ada hubungannya dengan mengajar ya akhirnya mengajarnya harus niru-niru dari guru yang asli.

Kaget? hu uhm.. terutama ketika harus bikin RPP – Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Silabus, dan Bahan Ajar yang sampai sekarang masih bingung juga bikinnya padahal udah nyontek kesana kemari. Oh iya hampir lupa juga aku di sini peranku menjadi Guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) kelas X (SMA Kelas 1), guru yang kadang jadi model juga *plak* eh kadang juga jadi tukang poto juga *plak*.

Terus aku mencoba mempelajari kurikulum yang diberikan pemerintah (dinas pendidikan) untuk SMA sampe khatam. Dan membaca lembar perlembar kurikulum itupun bikin aku ngantukz ilakes :lol:. Dan akhirnya aku beropini kalau kurikulum yang ada gag-tepas-blak (baca: gag tepak blas) bila diterapkan di kota. Masa’ udah SMA masih diajarin cara menyalakan komputer, cara mengetik di aplikasi Office, dan cara duduk yang enak kalau memakai komputer.

Pada akhirnya ya perlu kerja keras untuk mengembangkan materi dari kurikulum yang ada supaya tidak membosankan ketika diajarkan di kelas. Dan yang paling penting supaya muridku siap dengan teknologi yang terbaru saat ini, biar otak mereka tidak basbang dan mereka juga selalu haus akan informasi. :cool:

Dampak negatifnya apa? karena aku mengembangkan terlalu luas akhirnya buku yang beredar di pasaran terlampaui jauh ilakes. Kalo mengajar ya aku biasanya pake Slide trus muridku tinggal menyimak, selesai pelajaran mereka bisa mengkopi Slide tersebut. Namanya murid setiap mau ulangan pasti bertanya “Pak, bukunya apa?”, ya sudah pasti jawabannya “Uncle Google and Wikipedia!”.

Besok yang tanya lagi sini aku tendang sini.. Mangkanya jangan terlalu banyak berpesbuk, banyak hal menarik selain facebook loh.

Eniwei jadi guru pasti ada suka dan ada duka domz.. ok curcol selanjutnya hubungan antara guru dan murid :oops: *auuw.. auuw..*

Tas bikin pegel linukz

Ini bukan bicarain sistem operasi Linux loh, juga bukan bicarain tentang jamu. Ini bahas tentang tas yang aku tenteng kemana-mana seharian. Karena berprofesi ganda otomatis perlu tas yang multiguna, harus bisa dimasukin segala macemnya tapi bukan seperti doraemon *plak*. Dari pada penasaran aku jelasin deh satu-satu:

  • Guru Wannabe: tasku biasanya berisi macbook+charger, buku draft buat corat-coret, kotak pensil, spidol empat biji dan remote lcd proyektor.
  • OB Wannabe: idem sama di atas, minus remote
  • Fotografer Wannabe: biasanya bawa satu body, satu lensa, satu trigger, dua receiver, charger, beberapa batre. kadang kalau lagi liputan ada yang titip body juga.

Kecelakaan yang sering terjadi yaitu kalo habis ngajar kudu langsung liputan. Lah yang seharusnya isinya gantian akhirnya jadi satu tumplek blhek. Dan tas yang harusnya tentengebel malah jadi bikin sakit leher sampe ke pantat eh maksudnya pinggang :lol: .

Baru saja aku nongkrong di Mamipo bahas tentang perkembangan remaja mulai dari sikap remaja sampe kenakalan remaja, wah bahasan yang ini dibahas lain waktu aja. Waktu lagi ngobrol aku mengeluh bagian leher kebelakang sakit banget pegel-pegel gituh. Kak Swanti cerita tentang low back pain, penyakit yang sedang diderita oleh fotografer gara-gara membawa beban yang berat dan atau salah mengangkat beban. Kebanyakan juga karena membawa beban yang tidak seimbang antara sisi kanan dan kiri tubuh.

Tas yang biasa aku bawa itu tas selempang, dan karena beratnya gag seimbang sering kali bikin pegel sampe leher. Klo lagi pegel bawaannya pengen makan orang aja. Beneran beratnya gag ketulungan ketika berisi body 1D dan 5D, lensa 15mm, 35mm, 50mm, 200mm. Lah masalahnya sekarang ganti tas backpack ato ganti kamera M9? *ngayal*

Hacking EOS 400D

Awalnya oom Andriansahj posting ke milis id-photographer dengan subject “Ada yang sudah hack firmware 400D nya?”. Postingan tersebut disertai link ke Forum photography on the net (Firmware hack Rebel XTi /400D enables ISO 3200, Spot metering!). Karena penasaran akhirnya saya dan handa mencoba eksperimen meng-hack kamera saya EOS 400D.

Dan hasilnya sukses, berikut perubahan yang terjadi:

  • ISO: 100 (16 / 32 / 40 / 50 / 80 / 100), 200 (200 / 250 / 320), 400 (400 / 500 / 640), 800 (800 / 1000 / 1250), 1600 (1600 / 2000 / 2500 / 3200). Maksud dari angka yang berada dalam kurung tersebut adalah kita dapat mengubah nilai ISO-nya, tapi ISO utama harus dipilih terlebih dahulu. Salah satu contohnya setelah kita memilih ISO 100 kemudian kita menekan tombol print maka kita dapat mengubah ISO menjadi 16, 32, 40, 50, 80 sampai 100. Begitu pula pada ISO atasnya.
  • Mettering: Bertambah satu yaitu Spot Mettering.

EOS 400D: ISO 16 - 3200, Spot Metering dijuwal murah!!! gag perlu 50D klo pengen moooiii...

Review awal kami:

  • Malem hari ISO16 ke ISO100 perbedaannya tipis sekali tidak sampai satu stop, tapi lumayan.
  • Spot Mettering juga naik sedikit dibandingkan dengan Partial Mettering.
  • Dengan cahaya minim (dalam kamar), ISO1600 ke ISO3200 bisa naik sampai satu stop.

Permasalahan yang terjadi:

  • Ketika CF (Compact Flash) diformat melalui kamera atau CF diganti dengan yang lain maka fungsi hack tadi hilang. Hal ini terjadi karena fungsi bootable yang dibuat oleh CardTrick dan file autoexec.bin hilang. Untuk mengatasi hal tersebut sebelum berangkat memfoto siapkan CF yang sudah bootable dan berisi autoexec.bin lebih dari satu.

Besok kami coba tambahkan review di kondisi cahaya siang hari :D dan jangan lupa kerusakan ditanggung ybs loh, selama mengikuti prosedur kelihatannya aman-aman saja.

Yang paling murah ada?

Pulang kuliah sore-sore, ada rencana beli hp baru mampirlah saya ke toko hp di daerah dinoyo. Sony Ericsson W810i yang biasa saya pakai mau saya berikan pada adik saya soalnya punya dia dicuri orang. Dan saya ingin mempunyai hp yang simpel banget tidak perlu fitur canggih.

Sampai di toko saya ditanya sama penjaga tokonya “Mas, ada yang bisa dibantu?”, saya jawab “saya mau beli hp” *yaiyalah di toko hp masa’ mo beli mobil?*. Mba’ penjaga toko kemudian menanyakan kembali “Mau hp apa mas? tipe? merk?”. Berpikir sejenak kemudian saya jawab “saya ingin lihat Sony Ericsson”.

Si Mba’ datang sambil membawa katalog hp dan menceritakan fitur hp tersebut, lah hp yang ditawarkan harganya di atas 2jt *tepok jidat sambil mencari duwit 5jt yang terselip di dompet*. Lama dia menjelaskan tentang hp tersebut kemudian saya potong. Mba’, saya ingin beli hp yang paling murah dengan nada yang agak keras. Suasana toko yang awalnya ramai jadi sepi dan hampir semua melihat saya. Kata yang keluar dari mulut si Mba’ hanya “umm…”

Beberapa saat kemudian dia kembali dari belakang dan membawa hp Sony Ericsson tipe J (klo gag salah) sambil bilang “Mas, ini yang paling murah harganya 450rb”, sambil jelasin fitur yang ada. Saya bilang lagi ke dia “Mba’, yang lebih murah lagi dunk, pokoknya paling murah di toko ini!” *sambil macak melas*. Kemudian dia datang kembali membawa hp Samsung tipe E1110 dengan harga 350rb, dan hp itu jadi pilihan saya. Fitur yang ada sederhana sekali yang penting bisa sms dan telpon, sepertinya fitur multiple alarmnya juga menarik sekali.

Hehehe… sepertinya kalau mau beli barang apapun kalau ingin dapat yang paling murah harus macak rembes mbambes. Tapi tidak tau lagi klo faktor wajah *lirik blog sebelah*



Back to top