Isdah Ahmad

captured in fast script motion

Archive for the ‘Krisis Lingkungan’


Oktober di Kota Malang

Mendekati bulan penerimaan (maha)siswa baru pasti disambut dengan dinginnya kota Malang. Bagi yang tinggal di daerah yang dingin bukan menjadi masalah. Rata-rata suhu di kota Malang antara 21 derajat celcius sampai suhu terpanasnya 32 derajat celcius. Ditambah efek global warming suhu tertingginya bisa mencapai 37 derajat celcius, kalau waktu siang panasnya bukan main.

Masjid Agung Jami' Malang

Masjid Agung Jami' Malang

Di bulan Oktober ini sampai Agustus angin dingin dari Australia menuju daerah di Jawa Timur salah satunya kota Malang *cmiiw*. Sehingga menyebabkan suhu udara di kota Malang mencapai 16 – 28 derajat celcius dengan kelembaban 47-94%.

Dulu waktu aku masih kecil hampir setiap pagi pasti melihat kotaku berkabut. Aku masih ingat di sudut alun-alun kota Malang setiap pagi berangkat sekolah melihat orang berolah-raga dengan ekspresi menahan udara dingin, beberapa orang berjualan serabi dan bakpao di pagi yang dingin. Dan yang paling tercetak di otakku kabut ditambah dengan matahari pagi, yup sinar matahari yang melewati rimbunan pohon beringin membuat garis-garis sinar. waaaaw.. nostalgia banget. :grin:

Suatu hari di bulan Oktober waktu berangkat kerja kotaku berkabut, karena termasuk kejadian langka di era global warming langsung aku ambil kamera poket dan tekan shutter tanpa mikirin apapun. Jadinya hasilnya juga seadanya, cukup buat mengenang kota Malang tempo dulu. :cry:

Bank Mandiri, samping Masjid Agung Jami' Malang

Bank Mandiri, samping Masjid Agung Jami' Malang

Alun-alun Kota Malang, sebelah selatan

Alun-alun Kota Malang, sebelah selatan

Alun-alun Kota Malang, sebelah selatan

Alun-alun Kota Malang, sebelah selatan

Ke arah Pasar Besar Malang

Ke arah Pasar Besar Malang

Laporan lingkungan bertumpuk calon sampah baru

Beberapa minggu yang lalu saya berserta teman-teman mempunyai tugas untuk membuat laporan mengenai Adiwiyata. Apa itu Adiwiyata? Adiwiyata sama seperti lomba Adipura tapi untuk tingkat sekolah. Laporan itu merupakan hasil dari kegiatan kepedulian sekolah terhadap lingkungan, dari kegiatan siswa menanam pohon, pelestarian lingkungan sekolah dengan pembangunan Green House, sampai dengan pengolahan sampah organik.
Laporan yang dibuat terdiri dari enam buku dan itu harus rangkap dua, satu dikirim ke Jakarta dan satunya dikirim ke Surabaya. Dalam satu buku laporan terdiri dari puluhan lembar kertas A4S (80gram) ditambah kertas photo glossy. Dan dalam pembuatan laporan itu juga menghabiskan tinta beberapa botol. Jumlah tersebut memang cukup ironis, dimana kita mengkampanyekan untuk mengurangi penggunaan sampah kertas dan plastik berlebih tetapi kita malah banyak menghamburkan kertas terlebih lagi ketika salah mencetak atau paper-jam yang membuat kertas lusuh.Dengan tebalnya laporan tersebut, saya sedikit ragu apakah laporan tersebut dibaca dan dianalisa satu per satu oleh petugas yang berwenang. Kenapa mereka tidak menilai secara obyektif saja dengan datang dan melihat sekolah tersebut?

Solusinya bagaimana? Mengapa kita tidak memberikan kepada juri berupa file dengan format Portable Document Format (PDF). Padahal file dengan format PDF tersebut merupakan dokumen resmi. Dengan begitu berapa banyak pohon yang terselamatkan? Berapa banyak sampah yang berkurang?



Back to top