Isdah Ahmad

captured in fast script motion

Archive for the ‘Opini’


Tas bikin pegel linukz

Ini bukan bicarain sistem operasi Linux loh, juga bukan bicarain tentang jamu. Ini bahas tentang tas yang aku tenteng kemana-mana seharian. Karena berprofesi ganda otomatis perlu tas yang multiguna, harus bisa dimasukin segala macemnya tapi bukan seperti doraemon *plak*. Dari pada penasaran aku jelasin deh satu-satu:

  • Guru Wannabe: tasku biasanya berisi macbook+charger, buku draft buat corat-coret, kotak pensil, spidol empat biji dan remote lcd proyektor.
  • OB Wannabe: idem sama di atas, minus remote
  • Fotografer Wannabe: biasanya bawa satu body, satu lensa, satu trigger, dua receiver, charger, beberapa batre. kadang kalau lagi liputan ada yang titip body juga.

Kecelakaan yang sering terjadi yaitu kalo habis ngajar kudu langsung liputan. Lah yang seharusnya isinya gantian akhirnya jadi satu tumplek blhek. Dan tas yang harusnya tentengebel malah jadi bikin sakit leher sampe ke pantat eh maksudnya pinggang :lol: .

Baru saja aku nongkrong di Mamipo bahas tentang perkembangan remaja mulai dari sikap remaja sampe kenakalan remaja, wah bahasan yang ini dibahas lain waktu aja. Waktu lagi ngobrol aku mengeluh bagian leher kebelakang sakit banget pegel-pegel gituh. Kak Swanti cerita tentang low back pain, penyakit yang sedang diderita oleh fotografer gara-gara membawa beban yang berat dan atau salah mengangkat beban. Kebanyakan juga karena membawa beban yang tidak seimbang antara sisi kanan dan kiri tubuh.

Tas yang biasa aku bawa itu tas selempang, dan karena beratnya gag seimbang sering kali bikin pegel sampe leher. Klo lagi pegel bawaannya pengen makan orang aja. Beneran beratnya gag ketulungan ketika berisi body 1D dan 5D, lensa 15mm, 35mm, 50mm, 200mm. Lah masalahnya sekarang ganti tas backpack ato ganti kamera M9? *ngayal*

Bolo gag bolo

Waktu jalan pulang dari kampus lewat krumunan anak kecil yang lagi maen jumpritan-singit alias petak umpet. Langsung aja aku berhenti melihat sejenak mereka bermain. Sewaktu membagi menjadi dua kelompok mereka menyanyikan lagu yang tidak asing bagiku, seperti ini:

Bolo gag bolo
Gag oleh njae
Gag oleh pilih kasih
Pilih kasih dibuyari

Kalau versi indonesia mungkin seperti ini:

Teman gag teman
Gag boleh ngambek
Gag boleh pilih kasih
Pilih kasih dipecat *err… mekso*

Entah siapa yang membuat lagu itu, tapi turun menurun hampir semua anak kecil ketika bermain dan membagi kelompok pasti hom-pim-pa sambil menyanyikan lagu tersebut.

Kalau memberikan tugas ke murid biasanya aku suruh mereka mengerjakan secara berkelompok. Karena menurutku hasilnya lebih kreatif dan imajinatif. Awalnya aku sering menawarkan pada mereka “kelompoknya dipilihkan atau pilih sendiri”. Pasti jawabannya 90% menginginkan memilih kelompok sendiri.

Alasannya juga cukup beragam, ada yang bilang kalau rumahnya satu wilayah, ada yang bilang juga kalau lebih dekat dengan temannya pilihannya sendiri karena ngobrol lebih nyambung dan mereka lebih nyaman.

Sekarang kalau melihat di sisi aku sendiri, aku lebih suka bentuk kelompok yang random. Dengan alasan aku bisa mengenal orang baru itu. Kalau seumpama aku atau dia tidak saling cocok bagaimana? Menurutku aku harus menyelesaikan tugas itu tanpa melihat emosi yang ada. Toh di sana juga aku belajar lebih dan mendapatkan pengalaman lebih.

Jadi? Bolo gag bolo tetep konco toh…

Kasta Fotografer

Barusan diskusi dengan beberapa teman fotografer, dan bahasan yang menarik di kalangan fotografer adalah seputar pose, model dan senjata yang dipakai. Lah bahasan yang paling lama biasanya senjata yang dipakai oleh fotografer tersebut, seperti body kamera dan lensa yang dipakai.

Bukan bicara merk kamera, bagi saya sendiri apapun kameranya selama kreativitas ada bukan masalah besar. Sesuai dengan judul kita bicara mengenai kasta saja. Kita ambil contoh Canon dari tipe empat dijit sampai dengan satu dijit, semakin kecil dijitnya semakin mahal harganya sampai puluhan juta.

Lah semakin kecil dijitnya hasilnya semakin bagus juga, hal ini dikarenakan ukuran sensor yang ada dalam kamera dan prosesor untuk mengolah gambar hasil jepretan. Lensa juga mempunyai pengaruh besar dalam mengambil gambar, seperti punya Canon yang L series (L artinya Luxury) harganya cukup mahal juga apalagi bila dia punya nilai F besar senilai 1,2 yang bisa menghasilkan blur yang sepektakuler.

Ironisnya ketika body dan lensa pakai yang kasta atas untuk mengambil gambar model, biasanya pose model sederhana saja seperti mengelus rambut atau tersenyum saja. Dan hasil jepretan dari komposisi tersebut so pasti yahuud! Eh iya hampir lupa sisi ironisnya, jadi begini dengan senjata yang yahud akhirnya membuat membunuh kreativitas fotografer tersebut. Bayangkan saja sekali jepretan sederhana dengan senjata seperti itu hasilnya bisa bikin ngiler.

Saya pribadi masih di dalam kasta tiga dijit, sehingga untuk membuat foto yang bagus banyak hal yang harus diperhitungkan. Senjata yang saya andalkan malah kekreativitasan saya bukan kamera yang saya bawa. Dengan begitu men-trigger semua kekurang saya, apalagi saya juga masih cupu+nyubi urusan jepret-jepret *eh redundant ya*

Kamera itu hanya tool atau biasa disebut hardware, tangan dan mata bisa disebut software, dan otak kreatif disebut brainware. Ketika semua digabungkan jadilah sebuah liveware *loh*. Postingan ini hanya sebatas IMHO saja, dan saya pribadi ingin naik ke kasta dua dijit tapi apa daya belum menemukan duit yang nyelip di dalam dompet. Tapi dengan apa yang ada sekarang saya harus bisa membuat karya yang tetap membuat orang senang melihatnya.

*aduh kapan ya punya 5D Mark II*



↑ Top