<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Isdah Ahmad &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://isdahahmad.net/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://isdahahmad.net</link>
	<description>captured in fast script motion</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Jun 2010 14:53:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tas bikin pegel linukz</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2009/11/tas-bikin-pegel-linukz/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2009/11/tas-bikin-pegel-linukz/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 17:26:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Iseng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[tas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Ini bukan bicarain sistem operasi Linux loh, juga bukan bicarain tentang jamu. Ini bahas tentang tas yang aku tenteng kemana-mana seharian. Karena berprofesi ganda otomatis perlu tas yang multiguna, harus bisa dimasukin segala macemnya tapi bukan seperti doraemon *plak*. Dari pada penasaran aku jelasin deh satu-satu: Guru Wannabe: tasku biasanya berisi macbook+charger, buku draft buat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini bukan bicarain sistem operasi Linux loh, juga bukan bicarain tentang jamu. Ini bahas tentang tas yang aku tenteng kemana-mana seharian. Karena berprofesi ganda otomatis perlu tas yang multiguna, harus bisa dimasukin segala macemnya tapi bukan seperti doraemon *plak*. Dari pada penasaran aku jelasin deh satu-satu:</p>
<ul>
<li>Guru Wannabe: tasku biasanya berisi macbook+charger, buku draft buat corat-coret, kotak pensil, spidol empat biji dan remote lcd proyektor.</li>
<li>OB Wannabe: idem sama di atas, minus remote</li>
<li>Fotografer Wannabe: biasanya bawa satu body, satu lensa, satu trigger, dua receiver, charger, beberapa batre. kadang kalau lagi liputan ada yang titip body juga.</li>
</ul>
<p>Kecelakaan yang sering terjadi yaitu kalo habis ngajar kudu langsung liputan. Lah yang seharusnya isinya gantian akhirnya jadi satu tumplek blhek. Dan tas yang harusnya tentengebel malah jadi bikin sakit leher sampe ke pantat eh maksudnya pinggang <img src='http://isdahahmad.net/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Baru saja aku nongkrong di Mamipo bahas tentang perkembangan remaja mulai dari sikap remaja sampe kenakalan remaja, wah bahasan yang ini dibahas lain waktu aja. Waktu lagi ngobrol aku mengeluh bagian leher kebelakang sakit banget pegel-pegel gituh. Kak Swanti cerita tentang <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Low_back_pain"><em>low back pain</em></a>, penyakit yang sedang diderita oleh fotografer gara-gara membawa beban yang berat dan atau salah mengangkat beban. Kebanyakan juga karena membawa beban yang tidak seimbang antara sisi kanan dan kiri tubuh.</p>
<p>Tas yang biasa aku bawa itu tas selempang, dan karena beratnya gag seimbang sering kali bikin pegel sampe leher. Klo lagi pegel bawaannya pengen makan orang aja. Beneran beratnya gag ketulungan ketika berisi body 1D dan 5D, lensa 15mm, 35mm, 50mm, 200mm. Lah masalahnya sekarang ganti tas backpack ato ganti kamera M9? *ngayal*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2009/11/tas-bikin-pegel-linukz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolo gag bolo</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2009/09/bolo-gag-bolo/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2009/09/bolo-gag-bolo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 15:09:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Waktu jalan pulang dari kampus lewat krumunan anak kecil yang lagi maen jumpritan-singit alias petak umpet. Langsung aja aku berhenti melihat sejenak mereka bermain. Sewaktu membagi menjadi dua kelompok mereka menyanyikan lagu yang tidak asing bagiku, seperti ini: Bolo gag bolo Gag oleh njae Gag oleh pilih kasih Pilih kasih dibuyari Kalau versi indonesia mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu jalan pulang dari kampus lewat krumunan anak kecil yang lagi maen jumpritan-singit alias petak umpet. Langsung aja aku berhenti melihat sejenak mereka bermain. Sewaktu membagi menjadi dua kelompok mereka menyanyikan lagu yang tidak asing bagiku, seperti ini:</p>
<blockquote><p>Bolo gag bolo<br />
Gag oleh njae<br />
Gag oleh pilih kasih<br />
Pilih kasih dibuyari</p></blockquote>
<p>Kalau versi indonesia mungkin seperti ini:</p>
<blockquote><p>Teman gag teman<br />
Gag boleh ngambek<br />
Gag boleh pilih kasih<br />
Pilih kasih dipecat *err&#8230; mekso*</p></blockquote>
<p>Entah siapa yang membuat lagu itu, tapi turun menurun hampir semua anak kecil ketika bermain dan membagi kelompok pasti hom-pim-pa sambil menyanyikan lagu tersebut.</p>
<p>Kalau memberikan tugas ke murid biasanya aku suruh mereka mengerjakan secara berkelompok. Karena menurutku hasilnya lebih kreatif dan imajinatif. Awalnya aku sering menawarkan pada mereka &#8220;kelompoknya dipilihkan atau pilih sendiri&#8221;. Pasti jawabannya 90% menginginkan memilih kelompok sendiri.</p>
<p>Alasannya juga cukup beragam, ada yang bilang kalau rumahnya satu wilayah, ada yang bilang juga kalau lebih dekat dengan temannya pilihannya sendiri karena ngobrol lebih nyambung dan mereka lebih nyaman.</p>
<p>Sekarang kalau melihat di sisi aku sendiri, aku lebih suka bentuk kelompok yang random. Dengan alasan aku bisa mengenal orang baru itu. Kalau seumpama aku atau dia tidak saling cocok bagaimana? Menurutku aku harus menyelesaikan tugas itu tanpa melihat emosi yang ada. Toh di sana juga aku belajar lebih dan mendapatkan pengalaman lebih.</p>
<p>Jadi? Bolo gag bolo tetep konco toh&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2009/09/bolo-gag-bolo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasta Fotografer</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2009/03/kasta-fotografer/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2009/03/kasta-fotografer/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2009 18:37:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[shutter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Barusan diskusi dengan beberapa teman fotografer, dan bahasan yang menarik di kalangan fotografer adalah seputar pose, model dan senjata yang dipakai. Lah bahasan yang paling lama biasanya senjata yang dipakai oleh fotografer tersebut, seperti body kamera dan lensa yang dipakai. Bukan bicara merk kamera, bagi saya sendiri apapun kameranya selama kreativitas ada bukan masalah besar. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Barusan diskusi dengan beberapa teman fotografer, dan bahasan yang menarik di kalangan fotografer adalah seputar pose, model dan senjata yang dipakai. Lah bahasan yang paling lama biasanya senjata yang dipakai oleh fotografer tersebut, seperti body kamera dan lensa yang dipakai.</p>
<p>Bukan bicara merk kamera, bagi saya sendiri apapun kameranya selama kreativitas ada bukan masalah besar. Sesuai dengan judul kita bicara mengenai kasta saja. Kita ambil contoh Canon dari tipe empat dijit sampai dengan satu dijit, semakin kecil dijitnya semakin mahal harganya sampai puluhan juta.</p>
<p>Lah semakin kecil dijitnya hasilnya semakin bagus juga, hal ini dikarenakan ukuran sensor yang ada dalam kamera dan prosesor untuk mengolah gambar hasil jepretan. Lensa juga mempunyai pengaruh besar dalam mengambil gambar, seperti punya Canon yang L series (L artinya Luxury) harganya cukup mahal juga apalagi bila dia punya nilai F besar senilai 1,2 yang bisa menghasilkan blur yang sepektakuler.</p>
<p>Ironisnya ketika body dan lensa pakai yang kasta atas untuk mengambil gambar model, biasanya pose model sederhana saja seperti mengelus rambut atau tersenyum saja. Dan hasil jepretan dari komposisi tersebut so pasti yahuud! Eh iya hampir lupa sisi ironisnya, jadi begini dengan senjata yang yahud akhirnya membuat membunuh kreativitas fotografer tersebut. Bayangkan saja sekali jepretan sederhana dengan senjata seperti itu hasilnya bisa bikin ngiler.</p>
<p>Saya pribadi masih di dalam kasta tiga dijit, sehingga untuk membuat foto yang bagus banyak hal yang harus diperhitungkan. Senjata yang saya andalkan malah kekreativitasan saya bukan kamera yang saya bawa. Dengan begitu men-<em>trigger</em> semua kekurang saya, apalagi saya juga masih cupu+nyubi urusan jepret-jepret *eh redundant ya*</p>
<p>Kamera itu hanya <em>tool </em>atau biasa disebut <em>hardware</em>, tangan dan mata bisa disebut <em>software</em>, dan otak kreatif disebut <em>brainware</em>. Ketika semua digabungkan jadilah sebuah <em>liveware </em>*loh*. Postingan ini hanya sebatas IMHO saja, dan saya pribadi ingin naik ke kasta dua dijit tapi apa daya belum menemukan duit yang nyelip di dalam dompet. Tapi dengan apa yang ada sekarang saya harus bisa membuat karya yang tetap membuat orang senang melihatnya.</p>
<p>*aduh kapan ya punya 5D Mark II*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2009/03/kasta-fotografer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terserah, Sakarep</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2009/01/terserah-sakarep/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2009/01/terserah-sakarep/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 14:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[obrolan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Terserah dalam bahasa jawa bisa dikatakan &#8220;sakarep&#8221;. Beberapa hari ini ketika saya minta pendapat ke teman saya entah kenapa mereka selalu menjawab &#8220;terserah&#8221; atau &#8220;sakarep&#8221;. Jawaban seperti itu mengingatkan saya kepada seorang teman. Dia setiap ditanya seingat saya selalu menjawab &#8220;terserah&#8221;, dan bukan saya saja yang bertanya seorang teman yang lain ketika bertanya ke dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terserah dalam bahasa jawa bisa dikatakan &#8220;sakarep&#8221;. Beberapa hari ini ketika saya minta pendapat ke teman saya entah kenapa mereka selalu menjawab &#8220;terserah&#8221; atau &#8220;sakarep&#8221;. Jawaban seperti itu mengingatkan saya kepada seorang <a href="http://7une.com">teman</a>. Dia setiap ditanya seingat saya selalu menjawab &#8220;terserah&#8221;, dan bukan saya saja yang bertanya seorang <a href="http://mahesajenar.com">teman</a> yang lain ketika bertanya ke dia pasti jawabnya &#8220;terserah&#8221;.</p>
<p>Jawaban tersebut memang selalu membuat jengkel si penanya. Kita bertanya memang untuk mendapatkan solusi atau keputusan, kalau jawabannya seperti itu kenapa kita harus bertanya <img src='http://isdahahmad.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Di sisi lain jawaban terserah itu memposisikan diri kepada kondisi aman. Orang yang selalu memposisikan dalam kondisi tersebut suka berpikiran defensif dan selalu menunggu. Seperti yang dikatakan Charlie Croker (Mark Wahlberg) di <a href="http://www.imdb.com/title/tt0317740/" target="_blank">Italian Job</a>, orang yang berpikiran defensif selalu diposisi no 2.</p>
<p>Karena penasaran saya menanyakan kepada dua orang yang suka menjawab &#8220;terserah&#8221; perihal jawaban &#8220;terserah&#8221;. Dan jawaban mereka seperti ini:</p>
<ul>
<li>Orang pertama: &#8220;Lah kalau saya menjawab nanti kalau ada yang tidak cocok pasti menyalahkan saya dan langsung ngambek&#8221;</li>
<li>Orang kedua: &#8220;Aku dulu ya tidak suka dengan jawaban terserah. Tapi dulu ketika aku bertanya pada forum dan mereka semua menjawab terserah, dan aku mengambil keputusan. Trus mereka menganggap aku egois. Jadi sekarang setiap aku ditanya aku pasti memposisikan sebagai mereka dengan jawaban terserah&#8221;</li>
</ul>
<p>Dari situ dapat dilihatkan kenapa mereka menjawab terserah? mereka menginginkan posisi aman. Sekarang TERSERAH anda mau berada diposisi mana? *loh koq terserah*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2009/01/terserah-sakarep/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FS ABG, the bandwidth killer!</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2008/11/fs-abg-the-bandwidth-killer/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2008/11/fs-abg-the-bandwidth-killer/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 14:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[friendster]]></category>
		<category><![CDATA[layout]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Friendster, sebuah Social Network yang cukup populer di Indonesia. IMHO, semenjak mengenal Facebook, saya lebih banyak aktivitas di Facebook karena selain memberikan layanan yang berbeda konsep, Facebook cukup menarik. Di sisi lain, salah satu contohnya di kalangan ABG yang kebetulan secara tidak langsung saya terlibat dalam komunitas itu masih memilih Friendster sebagai layanan Social Network. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://friendster.com">Friendster</a>, sebuah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Social_network">Social Network</a> yang cukup populer di Indonesia. <acronym title="In My Humble Opinion">IMHO</acronym>, semenjak mengenal <a href="http://facebook.com">Facebook</a>, saya lebih banyak aktivitas di Facebook karena selain memberikan layanan yang berbeda konsep, Facebook cukup menarik.</p>
<p>Di sisi lain, salah satu contohnya di kalangan <acronym title="Anak Baru Gede">ABG</acronym> yang kebetulan secara tidak langsung saya terlibat dalam komunitas itu masih memilih Friendster sebagai layanan Social Network. Alasannya cukup simple, mereka suka karena bisa mengubah layout / tampilan sesuai dengan yang mereka inginkan.</p>
<p>Dengan layanan Friendster yang bisa mengubah layout, mereka mengubah tanpa melihat dari segi &#8220;enak dipandang&#8221; atau seni dalam desain web. Mereka suka menambahkan gambar / foto mereka dengan ukuran besar, yang lebih parah lagi mereka memberi backsound musik kesukaan mereka.</p>
<p>Kalau saya pribadi suka dengan layout yang simple and easy load. Saya setiap browsing internet biasanya sambil mendengarkan MP3, dan sangat terganggu bila membuka Friendster para ABG. (doh)</p>
<p>Bagi yang merasa ABG, belajar lagi ya!!!</p>
<p>Kalau penasaran silahkan buka akun Friendster saya di <a href="http://profiles.friendster.com/isdahahmad">http://profiles.friendster.com/isdahahmad</a>. Silahkan membuktikan sendiri, eits jangan lupa yang berlangganan internet dengan quota volume based.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2008/11/fs-abg-the-bandwidth-killer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ditolak iBokeh!</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2008/10/ditolak-ibokeh/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2008/10/ditolak-ibokeh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 19:16:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[shutter]]></category>
		<category><![CDATA[bokeh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Jadi ceritanya begini, pada suatu hari saya browsing news di DA. Baca-baca koleksi orang trus sampai berhenti lamaaaa di news tentang bokeh, judulnya iBokeh &#8230; A club for those who love bokeh. (Photography). Tentu saja semua yang ada di situ serba bokeh. Eh sebelumnya pasti beberapa ada yang belum tau arti kata bokeh, klo bokep [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi ceritanya begini, pada suatu hari saya browsing news di DA. Baca-baca koleksi orang trus sampai berhenti lamaaaa di news tentang bokeh, judulnya <a href="http://news.deviantart.com/article/50868/">iBokeh &#8230; A club for those who love bokeh.  (Photography)</a>. Tentu saja semua yang ada di situ serba bokeh.</p>
<p>Eh sebelumnya pasti beberapa ada yang belum tau arti kata bokeh, klo bokep udah pada tau dunk gag perlu dikasih tau. Bokeh adalah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Bokeh is a photographic term referring to the appearance of out-of-focus areas in an image produced by a camera lens. Different lens bokeh produces different aesthetic qualities in out-of-focus backgrounds, which are often used to reduce distractions and emphasize the primary subject.&#8221; (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bokeh" target="_blank">Wikipedia</a>)</p></blockquote>
<p>Intinya bokeh adalah area blur dari sebuah obyek yang dihasilkan oleh lensa kamera, lah biasanya dihasilkan dari aperture yang lebar.</p>
<p>Permasalahan yang ada pada koleksi itu err&#8230; koq rata-rata foto yang di situ foto kembang? Ada rasa ingin menyumbangkan secuil hasil karya saya *halah*. Kemudia saya submit foto <a href="http://isdahahmad.net/2008/08/13/kwaget/">kwaget </a>yang legendaris *halah*. Seperti biasa, karena kontributor foto bokeh cukup banyak jadi proses penerimaannya cukup lama hampir dua minggu.</p>
<p>Kapan hari saya menerima notes dari iBokeh yang isinya seperti ini:</p>
<blockquote><p>Hi! <img title="Hi!" src="http://e.deviantart.com/emoticons/w/wave.gif" alt=":wave:" width="25" height="20" /></p>
<p>We receive so many wonderful submissions, but we can only submit deviations that are right for our gallery &amp; that have the magical bokeh quality that we are looking for. We are also looking for originality, creativity &amp; the &#8220;magic touch&#8221;.<br />
If you are uncertain of what we are looking for, please see our</p>
<p>* <a href="http://news.deviantart.com/article/50868/">newsarticle</a><br />
* <a href="http://ibokeh.deviantart.com/favourites/">favs</a><br />
* <a href="http://ibokeh.deviantart.com/journal/">journal</a></p>
<p><img title="Star!" src="http://e.deviantart.com/emoticons/s/star_full.gif" alt=":star:" width="17" height="16" /> Important:<br />
That does <strong>NOT</strong> mean that photos that are not submitted in our gallery are of a bad quality, they are just not right for our club.</p>
<p>Wish you a wonderful day!<br />
<img title="Glomp!" src="http://e.deviantart.com/emoticons/g/glomp.gif" alt=":glomp:" width="47" height="20" /></p></blockquote>
<p>Loh yaa&#8230; ditolak, memang seeh foto yang saya submit masuk kategori street bukan macro, atau beautyshot. Tapi <strong>blur </strong>yang dihasilkan rasanya cukup layak masuk galeri mereka. Lah sekarang dengan menyadang nama <strong>bokeh </strong>yang berarti <strong>blur </strong>kenapa foto saya tidak masuk? Atau foto saya tidak masuk karena bukan foto kembang atau daun? lucukan?&#8230; *ngakak sik*</p>
<p>So far jadi lucu-lucuan neeh&#8230; BOKEH KUDU KEMBAAAANG!!!</p>
<p>Update terakhir saya sudah membalas notes dari mereka, tinggal menunggu saja. Saya tidak berharap masuk galeri mereka, hanya saja menggunakan nama bokeh artinya semua boleh dunk masuk asalkan ada unsur blurnya.</p>
<p>KEMBALIKAN DEFINISI BOKEH KE ASALNYA <img src='http://isdahahmad.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2008/10/ditolak-ibokeh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salahkan dirimu bila kamu menjadi penjahat</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2008/08/salahkan-dirimu-bila-kamu-menjadi-penjahat/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2008/08/salahkan-dirimu-bila-kamu-menjadi-penjahat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 08:57:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/2008/08/13/salahkan-dirimu-bila-kamu-menjadi-penjahat/</guid>
		<description><![CDATA[Kadang heran melihat orang jadi seorang penjahat. Ketika ditanya kenapa mereka menjadi seorang penjahat? Mereka menjawab karena tinggal di lingkungan yang mendukung dia menjadi seorang penjahat, ada lagi yang menjawab dia menjadi penjahat gara-gara orang tuanya. Lebih konyol lagi ketika ada yang menjawab dikarenakan gurunya? *loh*. Mana ada seorang guru yang ingin anak didiknya menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kadang heran melihat orang jadi seorang penjahat. Ketika ditanya kenapa mereka menjadi seorang penjahat? Mereka menjawab karena tinggal di lingkungan yang mendukung dia menjadi seorang penjahat, ada lagi yang menjawab dia menjadi penjahat gara-gara orang tuanya. Lebih konyol lagi ketika ada yang menjawab dikarenakan gurunya? *loh*. Mana ada seorang guru yang ingin anak didiknya menjadi seorang penjahat? Menjadi seorang penjahat itu pilihan sendiri!</p>
<blockquote><p>Jangan salahkan orang lain, orang tuamu, atau gurumu bila kamu jadi penjahat. Salahkan dirimu sendiri!</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2008/08/salahkan-dirimu-bila-kamu-menjadi-penjahat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilema sekolah gratis manis</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2008/07/dilema-sekolah-gratis-manis/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2008/07/dilema-sekolah-gratis-manis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 15:10:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar visi dan misi calon pemimpin yang salah satunya berisi &#8220;sekolah gratis&#8221;. Terus terang saya sangat setuju dengan hal itu. Walaupun banyak yang menolak dengan alasan bahwa membangun sekolah harus lewat mana? perekonomian sekolah bakal terancam? Segala sesuatunya itu ada sisi postif dan negatifnya. Bisa jadi bila sekolah gratis, pemerintah akan memberikan kucuran dana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah dengar visi dan misi calon pemimpin yang salah satunya berisi &#8220;sekolah gratis&#8221;. Terus terang saya sangat setuju dengan hal itu. Walaupun banyak yang menolak dengan alasan bahwa membangun sekolah harus lewat mana? perekonomian sekolah bakal terancam?</p>
<p>Segala sesuatunya itu ada sisi postif dan negatifnya. Bisa jadi bila sekolah gratis, pemerintah akan memberikan kucuran dana yang lebih besar untuk membatu perekonomian sekolah walaupun &#8220;you know lah&#8221;.</p>
<p>Tapi ada sesuatu yang membuat saya pribadi merasa gimana gitu. Kita lihat dari sisi muridnya sendiri, semua guru pasti berharap muridnya mendapatkan yang terbaik. Sekarang sekolah masih bayar tapi murid ketika diajar ada yang ramai, ada yang OOT, ada yang ada ada aja. Seakan-akan mereka tidak merasa orang tua yang jerih payah menyekolahkan anaknya hanya untuk formalitas, dalam artian &#8220;cangkruk ndek sekolahan ben ketok lek sekolah&#8221; (red: nongkrong di sekolahan biar kelihatan kalau sekolah).</p>
<p>Lah&#8230; kalau sekolah gratis? mereka bisa jadi seperti apalagi?</p>
<p>Postingan ini sekedar meluangkan waktu lima menit lagi sebelum mengajar <img src='http://isdahahmad.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2008/07/dilema-sekolah-gratis-manis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Being Social Smoker</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2008/07/being-social-smoker/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2008/07/being-social-smoker/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 05:43:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[perokok]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Terus terang saya bukan perokok terlebih lagi saya benci bau asap rokok. Saya mencoba untuk menghidar dari asap rokok walaupun terhitung cukup sulit karena teman saya kebanyakan perokok aktif. Pernah saya bertanya kepada perokok &#8220;apa seeh enaknya merokok?&#8221;. Mereka dengan tegas mengatakan &#8220;coba dulu, baru tau dimana enaknya&#8221;. Karena capek untuk melarang seseorang merokok dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terus terang saya bukan perokok terlebih lagi saya benci bau asap rokok. Saya mencoba untuk menghidar dari asap rokok walaupun terhitung cukup sulit karena teman saya kebanyakan perokok aktif. Pernah saya bertanya kepada perokok &#8220;apa seeh enaknya merokok?&#8221;. Mereka dengan tegas mengatakan &#8220;coba dulu, baru tau dimana enaknya&#8221;.</p>
<p>Karena capek untuk melarang seseorang merokok dan kata hati ingin sekali mencium udara yang segar dan bebas asap rokok, saya memutuskan untuk menjadi seorang perokok untuk mencari sela untuk memberikan alasan kepada mereka.</p>
<p>Sudah dua bulan saya menjadi seorang social smoker, seseorang yang merokok ketika berada di dalam lingkungan perokok. Tapi heran, sampai detik ini saya masih belum bisa mengatakan enaknya merokok ada dimana? Berbagai cara merokok sudah saya coba, namun hanya rasa sakit aja yang tersisa.</p>
<p>Kapan hari membaca blog dodi tentang <a href="http://gravity.web.id/2008/03/13/renungan-dahsyat-soal-rokok-dan-kecupuan/" target="_blank">Renungan Dahsyat Soal Rokok dan Kecupuan</a>. Kemudian saya mendiskusikan dengan rekan saya seorang pecandu rokok berat. Beliau mengatakan bahwa merokok itu enaknya ketika sedang termenung, memikirkan sesuatu atau sedang refreshing di pegunungan. Tanpa pikir panjang sayapun mencoba melakukan hal itu. Tapi sayang saya masih juga belum menemukan rasa nikmat dari rokok.</p>
<p>Aaah&#8230; rokok? hanya orang bodoh saja merokok, rasanya loh cuman ada sakit dan sesak saja. Setelah posting blog ini saya memutuskan untuk berhenti merokok.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2008/07/being-social-smoker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Photographer atau Photoshoper?</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2008/07/photographer-atau-photoshoper/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2008/07/photographer-atau-photoshoper/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 04:12:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[shutter]]></category>
		<category><![CDATA[photographer]]></category>
		<category><![CDATA[photoshoper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin sempat berdiskusi dengan para senior fotografer di kantor Omah[plus]. Diskusi dagelan ala warung kopi itu dimeriahkan oleh Teddy Soumokil (CEO Omah[plus]), Handa, Yuan, dan saya. Pada awalnya Pak Teddy membuka ajang diskusi dengan topik &#8220;kiri atau kanan buat ngeker?&#8221;. Silang pendapat antara penggunaan mata kiri dan mata kanan, sebagian besar orang ngeker lewat view [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin sempat berdiskusi dengan para senior fotografer di kantor Omah[plus]. Diskusi dagelan ala warung kopi itu dimeriahkan oleh Teddy Soumokil (CEO Omah[plus]), Handa, Yuan, dan saya. Pada awalnya Pak Teddy membuka ajang diskusi dengan topik &#8220;kiri atau kanan buat ngeker?&#8221;. Silang pendapat antara penggunaan mata kiri dan mata kanan, sebagian besar orang ngeker lewat view finder menggunakan mata kanan dan sambil menutup mata kiri. Ada juga yang suka ngeker dengan mata kiri. Herannya, orang yang ngeker dengan mata kanan, mata kiri pasti merem. Tapi orang yang ngeker dengan mata kiri, mata kanan masih tetap terbuka. Bukan diskusi seriuskan? :d</p>
<p>Hari semakin sore, topikpun berganti menjadi &#8220;Bagaimana memfoto yang benar?&#8221;. Lah dari topik itu saya baru mendengar istilah &#8220;Photographer atau Photoshoper&#8221; dari Pak Teddy. Istilah tersebut ada karena kebiasaan kita meng-edit foto menggunakan Adobe Photosop. Kalau foto kita sudah benar dari awal, maka tidak perlu dilakukan editing lagi. Tapi bila dari awal foto kita kurang benar, sebalikanya editing yang diperlukan sangat banyak. Foto tersebut jadi tidak natural lagi. Fotografer yang sejati katanya hampir tidak melakukan editing foto atau paling banyak just crop and resize.</p>
<p>Dari situ saya jadi ingat perkataan Oom Benny aka Pak Puh yang selalu mengatakan &#8220;Apaan tuh OLDIG (Olah Digital)?&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2008/07/photographer-atau-photoshoper/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
