<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Isdah Ahmad &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://isdahahmad.net/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://isdahahmad.net</link>
	<description>captured in fast script motion</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Dec 2011 21:36:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Teman, Aku Ingin Membantumu</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2010/09/teman-aku-ingin-membantumu/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2010/09/teman-aku-ingin-membantumu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Sep 2010 21:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=413</guid>
		<description><![CDATA[Dulu sewaktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) guruku selalu menegaskan bahwa &#8220;manusia sebagai makhluk sosial atau bermasyarakat&#8221;. Di sini sudah jelas, bahwa kita hidup ini harus saling tolong-menolong/membantu antara satu dengan lainnya. Bahkan kita diharuskan meninggalkan kata pamrih dalam hal itu. Mungkin kita merasa kita baik dan mampu membantu orang lain, akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu sewaktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) guruku selalu menegaskan bahwa &#8220;manusia sebagai makhluk sosial atau bermasyarakat&#8221;. Di sini sudah jelas, bahwa kita hidup ini harus saling tolong-menolong/membantu antara satu dengan lainnya. Bahkan kita diharuskan meninggalkan kata pamrih dalam hal itu.</p>
<p>Mungkin kita merasa kita baik dan mampu membantu orang lain, akan tetapi tidak semua orang suka dibantu. Suatu hari aku ingin membantu temanku, membantu dalam kapasitas teman yang menginginkan dia menjadi yang terbaik. Siapa yang tidak ingin melihat teman kita sukses, menjadi yang terbaik bahkan menjadi contoh bagi yang lain.</p>
<p>Pada hari itu aku bertemu temanku dan tanpa mengatakan tujuanku dia sudah mengetahui apa yang akan kulakukan, yaitu membantu dia. Namun dia berterus-terang menolak dengan menjawab &#8220;<em>Aku ingin melakukannya sendiri!</em>&#8220;.</p>
<p>Aku bertanya kepada dia dengan rasa penasaranku &#8220;<em>Kenapa kamu ingin melakukan sendiri? Aku bisa membantu kamu menjadi lebih baik, dan aku tidak akan meminta apapun dari kamu</em>&#8220;.</p>
<p>Dia menjawab &#8220;<em>Aku ingin melakukan sendiri, aku ingin merasakan sendiri. Ketika aku gagal aku tidak berutang kepada siapapun. Kegagalan itu hanya aku sendiri yang merasakan</em>&#8220;.</p>
<p>Aku balik menjawab &#8220;<em>Aku hanya membantu sesuai kemampuanku, tidak lebih. Ketika kamu gagal, aku pasti tersenyum dengan perjuanganmu</em>&#8220;. Kemudian aku menatap sambil tersenyum, dan mengatakan &#8220;<em>Semua orang pasti menginginkan kamu berhasil apalagi seseorang yang baik seperti kamu, dan meraka semua termasuk aku akan selalu mendoakan keberhasilanmu</em>&#8220;.</p>
<p>Dia tetap menjawab &#8220;<em>Aku ingin melakukannya sendiri dan merasakannya sendiri!</em>&#8221;</p>
<p>Sangking jengkelnya aku bersikeras &#8220;<em>Sudahlah percayalah, aku hanya membantu sebisaku. Suatu saat aku pasti membutuhkan bantuanmu dan bantuan itu sangatlah amat berarti buatku</em>&#8220;.</p>
<p>Namun pembicaraan itu berakhir dengan hasil yang sama. *sigh*</p>
<p>Aku suka membantu orang lain, selama aku mampu dan bisa melakukan. Tapi ketika bantuan tersebut ditolak rasanya sangat kecewa sekali. Lain hal ketika aku tidak mampu membantu, aku hanya bisa berharap ada orang lain yang mampu untuk menolong dia.</p>
<p>Teman, ketika aku membantu kamu. Kamu pasti akan berpikiran untuk membantu orang lain. Bukankah hal itu indah? Bukankah hal itu membuat dunia lebih baik?</p>
<p style="text-align: center;">~•~</p>
<p><em>Teman, percayalah..<br />
Aku berharap yang terbaik buat kamu, biarkanlah aku membantumu mencapai apa yang kamu inginkan.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2010/09/teman-aku-ingin-membantumu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghindar dari si teroris kecil bernama LPG</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2010/08/menghindar-dari-si-teroris-kecil-bernama-lpg/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2010/08/menghindar-dari-si-teroris-kecil-bernama-lpg/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 16:58:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=408</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu kasus LPG (Liquefied Petroleum Gas) meledak tidak seramai tahun ini. Sudah banyak korban yang diakibatkan dari penggunaan LPG terutama dari tabung LPG yang ukuran kecil 3Kg. Kalau ditanya siapa yang salah pasti saling menuding, yang satu bilang kalau yang salah pemerintah sedangkan satunya lagi bilang kalau cara pemasangan regulatornya, ininya, itunya tidak sesuai dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dahulu kasus <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Liquefied_petroleum_gas" target="_blank">LPG (Liquefied Petroleum Gas)</a> meledak tidak seramai tahun ini. Sudah banyak korban yang diakibatkan dari penggunaan LPG terutama dari tabung LPG yang ukuran kecil 3Kg. Kalau ditanya siapa yang salah pasti saling menuding, yang satu bilang kalau yang salah pemerintah sedangkan satunya lagi bilang kalau cara pemasangan regulatornya, ininya, itunya tidak sesuai dengan tata cara atau aksesoris *halah* LPG tidak masuk kategori <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Standar_Nasional_Indonesia" target="_blank">SNI (Standar Nasional Indonesia)</a>.</p>
<p>Suatu hari secara tiba-tiba di kamarku tercium bau kotoran kebo. Penasaran juga mencari sumber bau itu, dan ternyata berasal dari tabung LPG. Dulu bau gas yang keluar dari LPG tidak bau kotoran kebo, aku ingat betul dengan bau gas itu. Sebetulnya gas dari tabung LPG itu <em>adore-less</em> atau tidak berbau. Tetapi para ilmuwan sepakat *halah* untuk memberi aroma sebagai penanda bahwa tabung mengalami kebocoran. Di sini aku protes kenapa para ilmuwan memilih bau kotoran kebo sebagai penanda? Kenapa tidak memilih aroma yang lebih <em>nose-friendly</em>?</p>
<p>Aku sendiri sudah mencoba bermacam cara untuk menghindari kebocoran dari tabung LPG itu, mulai dari mengganti regulator yang harganya lebih mahal yang konon katanya lebih aman, mengganti seal karet dengan yang baru sebelum memasang regulator, sampai menambahkan pengaman segitiga untuk mengunci regulator pada tabung. Tapi tetap saja dalam hitungan hari masih saja tercium bau kotoran kebo, bau pilihan para ilmuwan *halah*. Akhirnya jadi ingat moto &#8220;<em>secure for now, may not secure for tomorrow</em>&#8220;.</p>
<p>Entah ini sebagai solusi atau bukan kami beralih menggunakan Blue Gas. Regulatornya mempunyai bentuk yang berbeda, dia menggunakan ulir. Dengan menggunakan ulir kemungkinan gas bocor bisa diminimalisir. Kemungkinan bocor bisa terjadi dari selang antara ujung regulator sampai dengan kompor. Penggunaan Blue Gas mungkin belum memasyarakat, yang menjual juga tidak begitu banyak. Aku sendiri di kota Malang membeli Blue Gas di daerah pasar Sukun. Mungkin ini salah satu solusi, bisa jadi bersifat <em></em>sementara atau selamanya sampai ada solusi yang lebih baik.</p>
<p>Ssttt.. yang jual Blue Gas di pasar Sukun engkoh moody. Kadang baik, kadang juga sering menatap sinis ke pelanggannya. Bagiku lebih mudah menghadapi engkoh moody dari pada bau kotoran kebo pilihan ilmuwan. *halah*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2010/08/menghindar-dari-si-teroris-kecil-bernama-lpg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tas bikin pegel linukz</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2009/11/tas-bikin-pegel-linukz/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2009/11/tas-bikin-pegel-linukz/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 17:26:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Iseng]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[tas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Ini bukan bicarain sistem operasi Linux loh, juga bukan bicarain tentang jamu. Ini bahas tentang tas yang aku tenteng kemana-mana seharian. Karena berprofesi ganda otomatis perlu tas yang multiguna, harus bisa dimasukin segala macemnya tapi bukan seperti doraemon *plak*. Dari pada penasaran aku jelasin deh satu-satu: Guru Wannabe: tasku biasanya berisi macbook+charger, buku draft buat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini bukan bicarain sistem operasi Linux loh, juga bukan bicarain tentang jamu. Ini bahas tentang tas yang aku tenteng kemana-mana seharian. Karena berprofesi ganda otomatis perlu tas yang multiguna, harus bisa dimasukin segala macemnya tapi bukan seperti doraemon *plak*. Dari pada penasaran aku jelasin deh satu-satu:</p>
<ul>
<li>Guru Wannabe: tasku biasanya berisi macbook+charger, buku draft buat corat-coret, kotak pensil, spidol empat biji dan remote lcd proyektor.</li>
<li>OB Wannabe: idem sama di atas, minus remote</li>
<li>Fotografer Wannabe: biasanya bawa satu body, satu lensa, satu trigger, dua receiver, charger, beberapa batre. kadang kalau lagi liputan ada yang titip body juga.</li>
</ul>
<p>Kecelakaan yang sering terjadi yaitu kalo habis ngajar kudu langsung liputan. Lah yang seharusnya isinya gantian akhirnya jadi satu tumplek blhek. Dan tas yang harusnya tentengebel malah jadi bikin sakit leher sampe ke pantat eh maksudnya pinggang <img src='http://isdahahmad.net/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Baru saja aku nongkrong di Mamipo bahas tentang perkembangan remaja mulai dari sikap remaja sampe kenakalan remaja, wah bahasan yang ini dibahas lain waktu aja. Waktu lagi ngobrol aku mengeluh bagian leher kebelakang sakit banget pegel-pegel gituh. Kak Swanti cerita tentang <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Low_back_pain"><em>low back pain</em></a>, penyakit yang sedang diderita oleh fotografer gara-gara membawa beban yang berat dan atau salah mengangkat beban. Kebanyakan juga karena membawa beban yang tidak seimbang antara sisi kanan dan kiri tubuh.</p>
<p>Tas yang biasa aku bawa itu tas selempang, dan karena beratnya gag seimbang sering kali bikin pegel sampe leher. Klo lagi pegel bawaannya pengen makan orang aja. Beneran beratnya gag ketulungan ketika berisi body 1D dan 5D, lensa 15mm, 35mm, 50mm, 200mm. Lah masalahnya sekarang ganti tas backpack ato ganti kamera M9? *ngayal*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2009/11/tas-bikin-pegel-linukz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolo gag bolo</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2009/09/bolo-gag-bolo/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2009/09/bolo-gag-bolo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 15:09:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Waktu jalan pulang dari kampus lewat krumunan anak kecil yang lagi maen jumpritan-singit alias petak umpet. Langsung aja aku berhenti melihat sejenak mereka bermain. Sewaktu membagi menjadi dua kelompok mereka menyanyikan lagu yang tidak asing bagiku, seperti ini: Bolo gag bolo Gag oleh njae Gag oleh pilih kasih Pilih kasih dibuyari Kalau versi indonesia mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu jalan pulang dari kampus lewat krumunan anak kecil yang lagi maen jumpritan-singit alias petak umpet. Langsung aja aku berhenti melihat sejenak mereka bermain. Sewaktu membagi menjadi dua kelompok mereka menyanyikan lagu yang tidak asing bagiku, seperti ini:</p>
<blockquote><p>Bolo gag bolo<br />
Gag oleh njae<br />
Gag oleh pilih kasih<br />
Pilih kasih dibuyari</p></blockquote>
<p>Kalau versi indonesia mungkin seperti ini:</p>
<blockquote><p>Teman gag teman<br />
Gag boleh ngambek<br />
Gag boleh pilih kasih<br />
Pilih kasih dipecat *err&#8230; mekso*</p></blockquote>
<p>Entah siapa yang membuat lagu itu, tapi turun menurun hampir semua anak kecil ketika bermain dan membagi kelompok pasti hom-pim-pa sambil menyanyikan lagu tersebut.</p>
<p>Kalau memberikan tugas ke murid biasanya aku suruh mereka mengerjakan secara berkelompok. Karena menurutku hasilnya lebih kreatif dan imajinatif. Awalnya aku sering menawarkan pada mereka &#8220;kelompoknya dipilihkan atau pilih sendiri&#8221;. Pasti jawabannya 90% menginginkan memilih kelompok sendiri.</p>
<p>Alasannya juga cukup beragam, ada yang bilang kalau rumahnya satu wilayah, ada yang bilang juga kalau lebih dekat dengan temannya pilihannya sendiri karena ngobrol lebih nyambung dan mereka lebih nyaman.</p>
<p>Sekarang kalau melihat di sisi aku sendiri, aku lebih suka bentuk kelompok yang random. Dengan alasan aku bisa mengenal orang baru itu. Kalau seumpama aku atau dia tidak saling cocok bagaimana? Menurutku aku harus menyelesaikan tugas itu tanpa melihat emosi yang ada. Toh di sana juga aku belajar lebih dan mendapatkan pengalaman lebih.</p>
<p>Jadi? Bolo gag bolo tetep konco toh&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2009/09/bolo-gag-bolo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasta Fotografer</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2009/03/kasta-fotografer/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2009/03/kasta-fotografer/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2009 18:37:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Shutter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Barusan diskusi dengan beberapa teman fotografer, dan bahasan yang menarik di kalangan fotografer adalah seputar pose, model dan senjata yang dipakai. Lah bahasan yang paling lama biasanya senjata yang dipakai oleh fotografer tersebut, seperti body kamera dan lensa yang dipakai. Bukan bicara merk kamera, bagi saya sendiri apapun kameranya selama kreativitas ada bukan masalah besar. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Barusan diskusi dengan beberapa teman fotografer, dan bahasan yang menarik di kalangan fotografer adalah seputar pose, model dan senjata yang dipakai. Lah bahasan yang paling lama biasanya senjata yang dipakai oleh fotografer tersebut, seperti body kamera dan lensa yang dipakai.</p>
<p>Bukan bicara merk kamera, bagi saya sendiri apapun kameranya selama kreativitas ada bukan masalah besar. Sesuai dengan judul kita bicara mengenai kasta saja. Kita ambil contoh Canon dari tipe empat dijit sampai dengan satu dijit, semakin kecil dijitnya semakin mahal harganya sampai puluhan juta.</p>
<p>Lah semakin kecil dijitnya hasilnya semakin bagus juga, hal ini dikarenakan ukuran sensor yang ada dalam kamera dan prosesor untuk mengolah gambar hasil jepretan. Lensa juga mempunyai pengaruh besar dalam mengambil gambar, seperti punya Canon yang L series (L artinya Luxury) harganya cukup mahal juga apalagi bila dia punya nilai F besar senilai 1,2 yang bisa menghasilkan blur yang sepektakuler.</p>
<p>Ironisnya ketika body dan lensa pakai yang kasta atas untuk mengambil gambar model, biasanya pose model sederhana saja seperti mengelus rambut atau tersenyum saja. Dan hasil jepretan dari komposisi tersebut so pasti yahuud! Eh iya hampir lupa sisi ironisnya, jadi begini dengan senjata yang yahud akhirnya membuat membunuh kreativitas fotografer tersebut. Bayangkan saja sekali jepretan sederhana dengan senjata seperti itu hasilnya bisa bikin ngiler.</p>
<p>Saya pribadi masih di dalam kasta tiga dijit, sehingga untuk membuat foto yang bagus banyak hal yang harus diperhitungkan. Senjata yang saya andalkan malah kekreativitasan saya bukan kamera yang saya bawa. Dengan begitu men-<em>trigger</em> semua kekurang saya, apalagi saya juga masih cupu+nyubi urusan jepret-jepret *eh redundant ya*</p>
<p>Kamera itu hanya <em>tool </em>atau biasa disebut <em>hardware</em>, tangan dan mata bisa disebut <em>software</em>, dan otak kreatif disebut <em>brainware</em>. Ketika semua digabungkan jadilah sebuah <em>liveware </em>*loh*. Postingan ini hanya sebatas IMHO saja, dan saya pribadi ingin naik ke kasta dua dijit tapi apa daya belum menemukan duit yang nyelip di dalam dompet. Tapi dengan apa yang ada sekarang saya harus bisa membuat karya yang tetap membuat orang senang melihatnya.</p>
<p>*aduh kapan ya punya 5D Mark II*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2009/03/kasta-fotografer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terserah, Sakarep</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2009/01/terserah-sakarep/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2009/01/terserah-sakarep/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 14:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[obrolan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Terserah dalam bahasa jawa bisa dikatakan &#8220;sakarep&#8221;. Beberapa hari ini ketika saya minta pendapat ke teman saya entah kenapa mereka selalu menjawab &#8220;terserah&#8221; atau &#8220;sakarep&#8221;. Jawaban seperti itu mengingatkan saya kepada seorang teman. Dia setiap ditanya seingat saya selalu menjawab &#8220;terserah&#8221;, dan bukan saya saja yang bertanya seorang teman yang lain ketika bertanya ke dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terserah dalam bahasa jawa bisa dikatakan &#8220;sakarep&#8221;. Beberapa hari ini ketika saya minta pendapat ke teman saya entah kenapa mereka selalu menjawab &#8220;terserah&#8221; atau &#8220;sakarep&#8221;. Jawaban seperti itu mengingatkan saya kepada seorang <a href="http://7une.com">teman</a>. Dia setiap ditanya seingat saya selalu menjawab &#8220;terserah&#8221;, dan bukan saya saja yang bertanya seorang <a href="http://mahesajenar.com">teman</a> yang lain ketika bertanya ke dia pasti jawabnya &#8220;terserah&#8221;.</p>
<p>Jawaban tersebut memang selalu membuat jengkel si penanya. Kita bertanya memang untuk mendapatkan solusi atau keputusan, kalau jawabannya seperti itu kenapa kita harus bertanya <img src='http://isdahahmad.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Di sisi lain jawaban terserah itu memposisikan diri kepada kondisi aman. Orang yang selalu memposisikan dalam kondisi tersebut suka berpikiran defensif dan selalu menunggu. Seperti yang dikatakan Charlie Croker (Mark Wahlberg) di <a href="http://www.imdb.com/title/tt0317740/" target="_blank">Italian Job</a>, orang yang berpikiran defensif selalu diposisi no 2.</p>
<p>Karena penasaran saya menanyakan kepada dua orang yang suka menjawab &#8220;terserah&#8221; perihal jawaban &#8220;terserah&#8221;. Dan jawaban mereka seperti ini:</p>
<ul>
<li>Orang pertama: &#8220;Lah kalau saya menjawab nanti kalau ada yang tidak cocok pasti menyalahkan saya dan langsung ngambek&#8221;</li>
<li>Orang kedua: &#8220;Aku dulu ya tidak suka dengan jawaban terserah. Tapi dulu ketika aku bertanya pada forum dan mereka semua menjawab terserah, dan aku mengambil keputusan. Trus mereka menganggap aku egois. Jadi sekarang setiap aku ditanya aku pasti memposisikan sebagai mereka dengan jawaban terserah&#8221;</li>
</ul>
<p>Dari situ dapat dilihatkan kenapa mereka menjawab terserah? mereka menginginkan posisi aman. Sekarang TERSERAH anda mau berada diposisi mana? *loh koq terserah*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2009/01/terserah-sakarep/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FS ABG, the bandwidth killer!</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2008/11/fs-abg-the-bandwidth-killer/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2008/11/fs-abg-the-bandwidth-killer/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 14:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[friendster]]></category>
		<category><![CDATA[layout]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Friendster, sebuah Social Network yang cukup populer di Indonesia. IMHO, semenjak mengenal Facebook, saya lebih banyak aktivitas di Facebook karena selain memberikan layanan yang berbeda konsep, Facebook cukup menarik. Di sisi lain, salah satu contohnya di kalangan ABG yang kebetulan secara tidak langsung saya terlibat dalam komunitas itu masih memilih Friendster sebagai layanan Social Network. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://friendster.com">Friendster</a>, sebuah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Social_network">Social Network</a> yang cukup populer di Indonesia. <acronym title="In My Humble Opinion">IMHO</acronym>, semenjak mengenal <a href="http://facebook.com">Facebook</a>, saya lebih banyak aktivitas di Facebook karena selain memberikan layanan yang berbeda konsep, Facebook cukup menarik.</p>
<p>Di sisi lain, salah satu contohnya di kalangan <acronym title="Anak Baru Gede">ABG</acronym> yang kebetulan secara tidak langsung saya terlibat dalam komunitas itu masih memilih Friendster sebagai layanan Social Network. Alasannya cukup simple, mereka suka karena bisa mengubah layout / tampilan sesuai dengan yang mereka inginkan.</p>
<p>Dengan layanan Friendster yang bisa mengubah layout, mereka mengubah tanpa melihat dari segi &#8220;enak dipandang&#8221; atau seni dalam desain web. Mereka suka menambahkan gambar / foto mereka dengan ukuran besar, yang lebih parah lagi mereka memberi backsound musik kesukaan mereka.</p>
<p>Kalau saya pribadi suka dengan layout yang simple and easy load. Saya setiap browsing internet biasanya sambil mendengarkan MP3, dan sangat terganggu bila membuka Friendster para ABG. (doh)</p>
<p>Bagi yang merasa ABG, belajar lagi ya!!!</p>
<p>Kalau penasaran silahkan buka akun Friendster saya di <a href="http://profiles.friendster.com/isdahahmad">http://profiles.friendster.com/isdahahmad</a>. Silahkan membuktikan sendiri, eits jangan lupa yang berlangganan internet dengan quota volume based.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2008/11/fs-abg-the-bandwidth-killer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ditolak iBokeh!</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2008/10/ditolak-ibokeh/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2008/10/ditolak-ibokeh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 19:16:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Shutter]]></category>
		<category><![CDATA[bokeh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Jadi ceritanya begini, pada suatu hari saya browsing news di DA. Baca-baca koleksi orang trus sampai berhenti lamaaaa di news tentang bokeh, judulnya iBokeh &#8230; A club for those who love bokeh. (Photography). Tentu saja semua yang ada di situ serba bokeh. Eh sebelumnya pasti beberapa ada yang belum tau arti kata bokeh, klo bokep [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi ceritanya begini, pada suatu hari saya browsing news di DA. Baca-baca koleksi orang trus sampai berhenti lamaaaa di news tentang bokeh, judulnya <a href="http://news.deviantart.com/article/50868/">iBokeh &#8230; A club for those who love bokeh.  (Photography)</a>. Tentu saja semua yang ada di situ serba bokeh.</p>
<p>Eh sebelumnya pasti beberapa ada yang belum tau arti kata bokeh, klo bokep udah pada tau dunk gag perlu dikasih tau. Bokeh adalah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Bokeh is a photographic term referring to the appearance of out-of-focus areas in an image produced by a camera lens. Different lens bokeh produces different aesthetic qualities in out-of-focus backgrounds, which are often used to reduce distractions and emphasize the primary subject.&#8221; (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bokeh" target="_blank">Wikipedia</a>)</p></blockquote>
<p>Intinya bokeh adalah area blur dari sebuah obyek yang dihasilkan oleh lensa kamera, lah biasanya dihasilkan dari aperture yang lebar.</p>
<p>Permasalahan yang ada pada koleksi itu err&#8230; koq rata-rata foto yang di situ foto kembang? Ada rasa ingin menyumbangkan secuil hasil karya saya *halah*. Kemudia saya submit foto <a href="http://isdahahmad.net/2008/08/13/kwaget/">kwaget </a>yang legendaris *halah*. Seperti biasa, karena kontributor foto bokeh cukup banyak jadi proses penerimaannya cukup lama hampir dua minggu.</p>
<p>Kapan hari saya menerima notes dari iBokeh yang isinya seperti ini:</p>
<blockquote><p>Hi! <img title="Hi!" src="http://e.deviantart.com/emoticons/w/wave.gif" alt=":wave:" width="25" height="20" /></p>
<p>We receive so many wonderful submissions, but we can only submit deviations that are right for our gallery &amp; that have the magical bokeh quality that we are looking for. We are also looking for originality, creativity &amp; the &#8220;magic touch&#8221;.<br />
If you are uncertain of what we are looking for, please see our</p>
<p>* <a href="http://news.deviantart.com/article/50868/">newsarticle</a><br />
* <a href="http://ibokeh.deviantart.com/favourites/">favs</a><br />
* <a href="http://ibokeh.deviantart.com/journal/">journal</a></p>
<p><img title="Star!" src="http://e.deviantart.com/emoticons/s/star_full.gif" alt=":star:" width="17" height="16" /> Important:<br />
That does <strong>NOT</strong> mean that photos that are not submitted in our gallery are of a bad quality, they are just not right for our club.</p>
<p>Wish you a wonderful day!<br />
<img title="Glomp!" src="http://e.deviantart.com/emoticons/g/glomp.gif" alt=":glomp:" width="47" height="20" /></p></blockquote>
<p>Loh yaa&#8230; ditolak, memang seeh foto yang saya submit masuk kategori street bukan macro, atau beautyshot. Tapi <strong>blur </strong>yang dihasilkan rasanya cukup layak masuk galeri mereka. Lah sekarang dengan menyadang nama <strong>bokeh </strong>yang berarti <strong>blur </strong>kenapa foto saya tidak masuk? Atau foto saya tidak masuk karena bukan foto kembang atau daun? lucukan?&#8230; *ngakak sik*</p>
<p>So far jadi lucu-lucuan neeh&#8230; BOKEH KUDU KEMBAAAANG!!!</p>
<p>Update terakhir saya sudah membalas notes dari mereka, tinggal menunggu saja. Saya tidak berharap masuk galeri mereka, hanya saja menggunakan nama bokeh artinya semua boleh dunk masuk asalkan ada unsur blurnya.</p>
<p>KEMBALIKAN DEFINISI BOKEH KE ASALNYA <img src='http://isdahahmad.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2008/10/ditolak-ibokeh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salahkan dirimu bila kamu menjadi penjahat</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2008/08/salahkan-dirimu-bila-kamu-menjadi-penjahat/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2008/08/salahkan-dirimu-bila-kamu-menjadi-penjahat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 08:57:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/2008/08/13/salahkan-dirimu-bila-kamu-menjadi-penjahat/</guid>
		<description><![CDATA[Kadang heran melihat orang jadi seorang penjahat. Ketika ditanya kenapa mereka menjadi seorang penjahat? Mereka menjawab karena tinggal di lingkungan yang mendukung dia menjadi seorang penjahat, ada lagi yang menjawab dia menjadi penjahat gara-gara orang tuanya. Lebih konyol lagi ketika ada yang menjawab dikarenakan gurunya? *loh*. Mana ada seorang guru yang ingin anak didiknya menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kadang heran melihat orang jadi seorang penjahat. Ketika ditanya kenapa mereka menjadi seorang penjahat? Mereka menjawab karena tinggal di lingkungan yang mendukung dia menjadi seorang penjahat, ada lagi yang menjawab dia menjadi penjahat gara-gara orang tuanya. Lebih konyol lagi ketika ada yang menjawab dikarenakan gurunya? *loh*. Mana ada seorang guru yang ingin anak didiknya menjadi seorang penjahat? Menjadi seorang penjahat itu pilihan sendiri!</p>
<blockquote><p>Jangan salahkan orang lain, orang tuamu, atau gurumu bila kamu jadi penjahat. Salahkan dirimu sendiri!</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2008/08/salahkan-dirimu-bila-kamu-menjadi-penjahat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilema sekolah gratis manis</title>
		<link>http://isdahahmad.net/2008/07/dilema-sekolah-gratis-manis/</link>
		<comments>http://isdahahmad.net/2008/07/dilema-sekolah-gratis-manis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 15:10:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>isdah ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://isdahahmad.net/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar visi dan misi calon pemimpin yang salah satunya berisi &#8220;sekolah gratis&#8221;. Terus terang saya sangat setuju dengan hal itu. Walaupun banyak yang menolak dengan alasan bahwa membangun sekolah harus lewat mana? perekonomian sekolah bakal terancam? Segala sesuatunya itu ada sisi postif dan negatifnya. Bisa jadi bila sekolah gratis, pemerintah akan memberikan kucuran dana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah dengar visi dan misi calon pemimpin yang salah satunya berisi &#8220;sekolah gratis&#8221;. Terus terang saya sangat setuju dengan hal itu. Walaupun banyak yang menolak dengan alasan bahwa membangun sekolah harus lewat mana? perekonomian sekolah bakal terancam?</p>
<p>Segala sesuatunya itu ada sisi postif dan negatifnya. Bisa jadi bila sekolah gratis, pemerintah akan memberikan kucuran dana yang lebih besar untuk membatu perekonomian sekolah walaupun &#8220;you know lah&#8221;.</p>
<p>Tapi ada sesuatu yang membuat saya pribadi merasa gimana gitu. Kita lihat dari sisi muridnya sendiri, semua guru pasti berharap muridnya mendapatkan yang terbaik. Sekarang sekolah masih bayar tapi murid ketika diajar ada yang ramai, ada yang OOT, ada yang ada ada aja. Seakan-akan mereka tidak merasa orang tua yang jerih payah menyekolahkan anaknya hanya untuk formalitas, dalam artian &#8220;cangkruk ndek sekolahan ben ketok lek sekolah&#8221; (red: nongkrong di sekolahan biar kelihatan kalau sekolah).</p>
<p>Lah&#8230; kalau sekolah gratis? mereka bisa jadi seperti apalagi?</p>
<p>Postingan ini sekedar meluangkan waktu lima menit lagi sebelum mengajar <img src='http://isdahahmad.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://isdahahmad.net/2008/07/dilema-sekolah-gratis-manis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

