Isdah Ahmad

captured in fast script motion

Archive for the ‘Opini’


Terserah, Sakarep

Terserah dalam bahasa jawa bisa dikatakan “sakarep”. Beberapa hari ini ketika saya minta pendapat ke teman saya entah kenapa mereka selalu menjawab “terserah” atau “sakarep”. Jawaban seperti itu mengingatkan saya kepada seorang teman. Dia setiap ditanya seingat saya selalu menjawab “terserah”, dan bukan saya saja yang bertanya seorang teman yang lain ketika bertanya ke dia pasti jawabnya “terserah”.

Jawaban tersebut memang selalu membuat jengkel si penanya. Kita bertanya memang untuk mendapatkan solusi atau keputusan, kalau jawabannya seperti itu kenapa kita harus bertanya :D

Di sisi lain jawaban terserah itu memposisikan diri kepada kondisi aman. Orang yang selalu memposisikan dalam kondisi tersebut suka berpikiran defensif dan selalu menunggu. Seperti yang dikatakan Charlie Croker (Mark Wahlberg) di Italian Job, orang yang berpikiran defensif selalu diposisi no 2.

Karena penasaran saya menanyakan kepada dua orang yang suka menjawab “terserah” perihal jawaban “terserah”. Dan jawaban mereka seperti ini:

  • Orang pertama: “Lah kalau saya menjawab nanti kalau ada yang tidak cocok pasti menyalahkan saya dan langsung ngambek”
  • Orang kedua: “Aku dulu ya tidak suka dengan jawaban terserah. Tapi dulu ketika aku bertanya pada forum dan mereka semua menjawab terserah, dan aku mengambil keputusan. Trus mereka menganggap aku egois. Jadi sekarang setiap aku ditanya aku pasti memposisikan sebagai mereka dengan jawaban terserah”

Dari situ dapat dilihatkan kenapa mereka menjawab terserah? mereka menginginkan posisi aman. Sekarang TERSERAH anda mau berada diposisi mana? *loh koq terserah*

FS ABG, the bandwidth killer!

Friendster, sebuah Social Network yang cukup populer di Indonesia. IMHO, semenjak mengenal Facebook, saya lebih banyak aktivitas di Facebook karena selain memberikan layanan yang berbeda konsep, Facebook cukup menarik.

Di sisi lain, salah satu contohnya di kalangan ABG yang kebetulan secara tidak langsung saya terlibat dalam komunitas itu masih memilih Friendster sebagai layanan Social Network. Alasannya cukup simple, mereka suka karena bisa mengubah layout / tampilan sesuai dengan yang mereka inginkan.

Dengan layanan Friendster yang bisa mengubah layout, mereka mengubah tanpa melihat dari segi “enak dipandang” atau seni dalam desain web. Mereka suka menambahkan gambar / foto mereka dengan ukuran besar, yang lebih parah lagi mereka memberi backsound musik kesukaan mereka.

Kalau saya pribadi suka dengan layout yang simple and easy load. Saya setiap browsing internet biasanya sambil mendengarkan MP3, dan sangat terganggu bila membuka Friendster para ABG. (doh)

Bagi yang merasa ABG, belajar lagi ya!!!

Kalau penasaran silahkan buka akun Friendster saya di http://profiles.friendster.com/isdahahmad. Silahkan membuktikan sendiri, eits jangan lupa yang berlangganan internet dengan quota volume based.

Ditolak iBokeh!

Jadi ceritanya begini, pada suatu hari saya browsing news di DA. Baca-baca koleksi orang trus sampai berhenti lamaaaa di news tentang bokeh, judulnya iBokeh … A club for those who love bokeh. (Photography). Tentu saja semua yang ada di situ serba bokeh.

Eh sebelumnya pasti beberapa ada yang belum tau arti kata bokeh, klo bokep udah pada tau dunk gag perlu dikasih tau. Bokeh adalah:

“Bokeh is a photographic term referring to the appearance of out-of-focus areas in an image produced by a camera lens. Different lens bokeh produces different aesthetic qualities in out-of-focus backgrounds, which are often used to reduce distractions and emphasize the primary subject.” (Wikipedia)

Intinya bokeh adalah area blur dari sebuah obyek yang dihasilkan oleh lensa kamera, lah biasanya dihasilkan dari aperture yang lebar.

Permasalahan yang ada pada koleksi itu err… koq rata-rata foto yang di situ foto kembang? Ada rasa ingin menyumbangkan secuil hasil karya saya *halah*. Kemudia saya submit foto kwaget yang legendaris *halah*. Seperti biasa, karena kontributor foto bokeh cukup banyak jadi proses penerimaannya cukup lama hampir dua minggu.

Kapan hari saya menerima notes dari iBokeh yang isinya seperti ini:

Hi! :wave:

We receive so many wonderful submissions, but we can only submit deviations that are right for our gallery & that have the magical bokeh quality that we are looking for. We are also looking for originality, creativity & the “magic touch”.
If you are uncertain of what we are looking for, please see our

* newsarticle
* favs
* journal

:star: Important:
That does NOT mean that photos that are not submitted in our gallery are of a bad quality, they are just not right for our club.

Wish you a wonderful day!
:glomp:

Loh yaa… ditolak, memang seeh foto yang saya submit masuk kategori street bukan macro, atau beautyshot. Tapi blur yang dihasilkan rasanya cukup layak masuk galeri mereka. Lah sekarang dengan menyadang nama bokeh yang berarti blur kenapa foto saya tidak masuk? Atau foto saya tidak masuk karena bukan foto kembang atau daun? lucukan?… *ngakak sik*

So far jadi lucu-lucuan neeh… BOKEH KUDU KEMBAAAANG!!!

Update terakhir saya sudah membalas notes dari mereka, tinggal menunggu saja. Saya tidak berharap masuk galeri mereka, hanya saja menggunakan nama bokeh artinya semua boleh dunk masuk asalkan ada unsur blurnya.

KEMBALIKAN DEFINISI BOKEH KE ASALNYA :D

Salahkan dirimu bila kamu menjadi penjahat

Kadang heran melihat orang jadi seorang penjahat. Ketika ditanya kenapa mereka menjadi seorang penjahat? Mereka menjawab karena tinggal di lingkungan yang mendukung dia menjadi seorang penjahat, ada lagi yang menjawab dia menjadi penjahat gara-gara orang tuanya. Lebih konyol lagi ketika ada yang menjawab dikarenakan gurunya? *loh*. Mana ada seorang guru yang ingin anak didiknya menjadi seorang penjahat? Menjadi seorang penjahat itu pilihan sendiri!

Jangan salahkan orang lain, orang tuamu, atau gurumu bila kamu jadi penjahat. Salahkan dirimu sendiri!

Dilema sekolah gratis manis

Pernah dengar visi dan misi calon pemimpin yang salah satunya berisi “sekolah gratis”. Terus terang saya sangat setuju dengan hal itu. Walaupun banyak yang menolak dengan alasan bahwa membangun sekolah harus lewat mana? perekonomian sekolah bakal terancam?

Segala sesuatunya itu ada sisi postif dan negatifnya. Bisa jadi bila sekolah gratis, pemerintah akan memberikan kucuran dana yang lebih besar untuk membatu perekonomian sekolah walaupun “you know lah”.

Tapi ada sesuatu yang membuat saya pribadi merasa gimana gitu. Kita lihat dari sisi muridnya sendiri, semua guru pasti berharap muridnya mendapatkan yang terbaik. Sekarang sekolah masih bayar tapi murid ketika diajar ada yang ramai, ada yang OOT, ada yang ada ada aja. Seakan-akan mereka tidak merasa orang tua yang jerih payah menyekolahkan anaknya hanya untuk formalitas, dalam artian “cangkruk ndek sekolahan ben ketok lek sekolah” (red: nongkrong di sekolahan biar kelihatan kalau sekolah).

Lah… kalau sekolah gratis? mereka bisa jadi seperti apalagi?

Postingan ini sekedar meluangkan waktu lima menit lagi sebelum mengajar ;)



Back to top