Isdah Ahmad

captured in fast script motion

Archive for the ‘Personal’


Mohon Maaf Lahir & Batin

IMG_7090 by you.

Model: Sainee Tamphu (Thailand) *jauh ya*
Lokasi: Hutan Malabar (Malang)
Fotografer: Ya sayah

Mohon maaf lahir dan batin ya… banyak dosa dan kesalahanku pada kalian semua… Walaupun telad ampir dua minggu, yang pentingkan masih lebaran :d dan mumpung udah gag pakir benwit

Marhaban Yaa Ramadhan 1429H

Tidak terasa ramadhan datang begitu cepat, hati terasa semakin cemas dan tak sabar untuk menanti hari esok. Tak lupa juga saya Isdah Ahmad memohon maaf atas semua kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Semoga bulan ramadhan yang akan datang ini lebih sempurna dari tahun kemarin.

*aamiin*

Panggil aku aaah!

Kuliah datang terlambat, hari sebelumnya dengan mata kuliah yang sama saya berhalangan datang dikarenakan masih ada tanggungan mengajar di beberapa kelas. Sebelum masuk ruang 2105 saya mengintip untuk melihat situasi dan kondisi, otak memerintahkan saya untuk langsung masuk dan mengambil tempat di depan.

“kenak kamuh” , beberapa orang berbisik menandakan bahwa saya akan mendapat suatu hukuman dari Profesor I Nyoman Sudana yang mengajar. Dan tidak salah profesor langsung melirik saya dan menanyakan “Saudara tidak salah kelas?”. Err… *berpikir sejenak* dan saya langsung menjawab “Tidak Prof, saya tidak salah kelas”. Beliau balik bertanya “Yakin? Saudara tidak salah kelas?”, dan saya menjawab sekali lagi “Saya yakin dan tidak salah kelas”. Profesor kemudian mempersilahkan saya untuk mengikuti kelas beliau.

Selang beberapa saat, Profesor bertanya pada saya “Siapa namamu?”. Saya menjawab “Isdah Ahmad”, kemudian dengan raut muka yang khas membuat satu kelas tertawa karena nama saya. Profesor meminta saya untuk mengganti nama saya dengan satu suku kata. *garuk-garuk* beliau berkata “aku panggil kau dengan Aaah”. Pada awalnya saya kurang setuju dengan beliau, saya langsung bertanya alasan dipanggil Aaah.

Kemudian beliau menjelaskan bahwa semua yang ada dikelas sudah memakai satu suku kata untuk namanya. Hal itu dilakukan hanya untuk mengajarkan kita berpikir ke “dunia lain”.

Kita tahu dan terbiasa memakai nama kita seperti apa adanya dari lahir, tetapi ketika kita dipanggil atau diberi nama yang ganjal menurut kita, perasaan kita pasti akan berbeda. Lah karena profesor tersebut mengajarkan tentang “dunia lain”, otomatis semua  semua hal harus diset untuk “dunia lain”.

Bingung? sama saya juga bingung dari penjelasan profesor tersebut. Namun saya menyadari ketika profesor memberikan satu kasus dan memberikan pertanyaan-pertanyaan ke kami. Manusia diberi akal pikiran untuk dapat berpikir lebih dari yang ada, namun ketika menghadapi pertanyaan profesor tersebut jangan harap kamu dapat berpikir lebih. Setiap jawaban pasti dibatasi oleh ya atau tidak. Alasan panjang yang kamu ceritakan tidak akan ada artinya.

Ternyata dalam sempitnya ruang yang diberikan untuk berargumen kita dipaksa untuk dapat berpikir the big frame dalam setiap masalah. Hasilnya memang benar bahwa kita berdiskusi tentang dunia lain. Dunia di luar realitas apa yang kita lihat dan rasakan.

Yang menjadi lebih menarik kuliah ini ibarat obrolan warung kopi tanpa kopi, dan semua yang hadir hanya mempunyai nama satu suku kata.

Asiknya memberi pengalaman

Kemarin iseng-iseng ngajak teman dari jauh untuk mencicipi masakan dari negeri sebelah. Eh sebetulanya mereka sudah lama tinggal di Malang, sekedar tinggal dan bekerja tanpa mencoba kuliner yang ada di sekeliling kota.

Awalanya ingin mengajak mereka makan Suki, tapi seperti masakan tersebut bakalan terasa asing bagi mereka. Berpikir sejenak akhirnya saya mengajak mereka makan Pizza, tanpa pikir panjang langsung berangkat ke Papa Ron’s Pizza.

Banyak hal yang menurut saya sedikit menggelitik. Dari empat orang yang saya ajak secara bersamaan mereka bertanya “Mas, nggone lesehan ndek endi?” (red: Mas, tempat lesehan di mana?). Lesehan? Wah sori Mba’e di sini tidak ada lesehan. Sedikit berdiskusi mereka langsung memberi usul “Mas, njaluk kloso ae, nggawe lesehan dewe. Sebelahe kolam iku loh enak gawe lesehan” (red: Mas, minta karpet aja buat lesehan sendiri. Sebelahnya kolam itu enak buat lesehan). *Gludak* Saya langsung diam sejenak dan menjawab “Makan di pizza lebih enak di meja (imho), belum pernah nyobakan? Ntar klo gag cocok, kita bikin lesehan”. Mereka berempatpun setuju dengan pendapat saya.

Sampai di meja, pelayan menyodorkan menu. Kemudian saya bilang ke mereka silahkan mencoba yang diinginkan. Jangan sungkan dan jangan takut mencoba. Tanpa pikir panjang mereka satu persatu memilih sambil berdiskusi dengan pelayan. Dalam hati “busyet, pesen sgitu banyak perutnya kaya’ apa? Aryo wannabe?”

Dan akhirnya hidanganpun datang diiringi kekagetan mereka yang melihat begitu banyaknya pesanan. Saya hanya bisa bilang “Hayoo, tanggung jawab!!!”. Sedikit demi sedikit mereka menikmati hidangan yang bisa dibilang baru pertama bagi mereka, dan mereka suka sekali. Walaupun pada akhirnya masih tersisa utuh dua porsi pizza ukuran besar.

Sambil menikmati hidangan penutup sayapun bertanya pada mereka “Jadi lesehan?”. Kontan aja mereka tertawa terpingkal-pingkal sambil bilang “Yow, gag cocok panganan ngene digawe lesehan” (red: Ya tidak cocok makanan seperti ini dinikmati sambil lesehan).

Setelah selesai, kitapun pulang dan mereka membawa pengalaman yang cukup berharga yang dapat diceritakan ke teman, saudara atau keluarga mereka.

Eeeeiit… saya dapat bonus tuh dari cerita di atas, waktu pulang dapat ce yang mau diajak jepret hohoho… >:)

Pak Guru wannabe

Di suatu pagi hari yang cerah. Kebetulan juga kota Malang di bulan Juli sampai Agutus menujukan hawa dingin seperti ketika di tahun 80′an, tapi yang berbeda ialah tidak ada kabut yang menyelimuti.

Sekolah saat itu berjalan seperti biasanya, kesibukan yang saya lakukanpun sama seperti hari-hari biasanya. Namun hal yang berbeda, beberapa orang menyapa saya dengan sapaan “Pagi, Pak Guru”. Loh kapan ditunjuk jadi gurunya?

Karena penasaran sayapun iseng ikutan rapat dinas untuk koordinasi. Beberapa saat kemudian ada Ibu Guru yang menunjukan saya kumpulan SK (Surat Keterangan) *kaget*. Ternyata saya diberi jatah mengajar seluruh kelas X dan kelas XI khusus SBI. Total jam mengajar sebanyak 22jam *tepok jidat*.

Rumornya guru baru tidak pernah mendapat jam sebanyak itu. Tapi mau bagaimana lagi, demi anak bangsa *macak jadi oemar bachrie*

*eng ing eng* besok pagi sudah mulai mengajar.



Back to top