Isdah Ahmad

captured in fast script motion

Archive for the ‘shutter’


Hacking EOS 400D

Awalnya oom Andriansahj posting ke milis id-photographer dengan subject “Ada yang sudah hack firmware 400D nya?”. Postingan tersebut disertai link ke Forum photography on the net (Firmware hack Rebel XTi /400D enables ISO 3200, Spot metering!). Karena penasaran akhirnya saya dan handa mencoba eksperimen meng-hack kamera saya EOS 400D.

Dan hasilnya sukses, berikut perubahan yang terjadi:

  • ISO: 100 (16 / 32 / 40 / 50 / 80 / 100), 200 (200 / 250 / 320), 400 (400 / 500 / 640), 800 (800 / 1000 / 1250), 1600 (1600 / 2000 / 2500 / 3200). Maksud dari angka yang berada dalam kurung tersebut adalah kita dapat mengubah nilai ISO-nya, tapi ISO utama harus dipilih terlebih dahulu. Salah satu contohnya setelah kita memilih ISO 100 kemudian kita menekan tombol print maka kita dapat mengubah ISO menjadi 16, 32, 40, 50, 80 sampai 100. Begitu pula pada ISO atasnya.
  • Mettering: Bertambah satu yaitu Spot Mettering.

EOS 400D: ISO 16 - 3200, Spot Metering dijuwal murah!!! gag perlu 50D klo pengen moooiii...

Review awal kami:

  • Malem hari ISO16 ke ISO100 perbedaannya tipis sekali tidak sampai satu stop, tapi lumayan.
  • Spot Mettering juga naik sedikit dibandingkan dengan Partial Mettering.
  • Dengan cahaya minim (dalam kamar), ISO1600 ke ISO3200 bisa naik sampai satu stop.

Permasalahan yang terjadi:

  • Ketika CF (Compact Flash) diformat melalui kamera atau CF diganti dengan yang lain maka fungsi hack tadi hilang. Hal ini terjadi karena fungsi bootable yang dibuat oleh CardTrick dan file autoexec.bin hilang. Untuk mengatasi hal tersebut sebelum berangkat memfoto siapkan CF yang sudah bootable dan berisi autoexec.bin lebih dari satu.

Besok kami coba tambahkan review di kondisi cahaya siang hari :D dan jangan lupa kerusakan ditanggung ybs loh, selama mengikuti prosedur kelihatannya aman-aman saja.

Berbagi cerita dengan facebook

Dari anak kecil umur satu digit sampe dengan ibu-ibu berumur puluhan tahun pasti tahu yang namanya situs jerjaring sosial Facebook. Di situs tersebut ada fasilitas photo album, dan di situ juga kita bisa” mengaitkan” foto tersebut dengan teman kita atau dalam bahasa kita sehari-hari “nge-tag”.

Kemarin sempat bingung mau berbagi cerita dengan foto. Bingungnya foto yang ada di hardisk pengennya diinternetkan *halah*, tapi bingung juga taruh dimana? Sempat kepikiran untuk langganan Picasaweb, langganannya berdasarkan kuota. Kepikiran juga punya Flickr, lihat fitur yang ditawarkan kedepan bikin ngiler juga dan langganannya tak terbatas aka unlimited.

Barusan aku coba gugling untuk mencari apakah ada plugin untuk WordPress yang bisa disandingkan dengan photo album punya Facebook? Dan akhirnya pencarian itu berbuah hasil yaitu plugin facebook-photos buatan Joe Tan. Langsung aku coba install plugin tersebut, dan hasilnya cukup mooiii…

Sekarang siap berbagi cerita dengan foto di Facebook dan blog ini. ;)

Kasta Fotografer

Barusan diskusi dengan beberapa teman fotografer, dan bahasan yang menarik di kalangan fotografer adalah seputar pose, model dan senjata yang dipakai. Lah bahasan yang paling lama biasanya senjata yang dipakai oleh fotografer tersebut, seperti body kamera dan lensa yang dipakai.

Bukan bicara merk kamera, bagi saya sendiri apapun kameranya selama kreativitas ada bukan masalah besar. Sesuai dengan judul kita bicara mengenai kasta saja. Kita ambil contoh Canon dari tipe empat dijit sampai dengan satu dijit, semakin kecil dijitnya semakin mahal harganya sampai puluhan juta.

Lah semakin kecil dijitnya hasilnya semakin bagus juga, hal ini dikarenakan ukuran sensor yang ada dalam kamera dan prosesor untuk mengolah gambar hasil jepretan. Lensa juga mempunyai pengaruh besar dalam mengambil gambar, seperti punya Canon yang L series (L artinya Luxury) harganya cukup mahal juga apalagi bila dia punya nilai F besar senilai 1,2 yang bisa menghasilkan blur yang sepektakuler.

Ironisnya ketika body dan lensa pakai yang kasta atas untuk mengambil gambar model, biasanya pose model sederhana saja seperti mengelus rambut atau tersenyum saja. Dan hasil jepretan dari komposisi tersebut so pasti yahuud! Eh iya hampir lupa sisi ironisnya, jadi begini dengan senjata yang yahud akhirnya membuat membunuh kreativitas fotografer tersebut. Bayangkan saja sekali jepretan sederhana dengan senjata seperti itu hasilnya bisa bikin ngiler.

Saya pribadi masih di dalam kasta tiga dijit, sehingga untuk membuat foto yang bagus banyak hal yang harus diperhitungkan. Senjata yang saya andalkan malah kekreativitasan saya bukan kamera yang saya bawa. Dengan begitu men-trigger semua kekurang saya, apalagi saya juga masih cupu+nyubi urusan jepret-jepret *eh redundant ya*

Kamera itu hanya tool atau biasa disebut hardware, tangan dan mata bisa disebut software, dan otak kreatif disebut brainware. Ketika semua digabungkan jadilah sebuah liveware *loh*. Postingan ini hanya sebatas IMHO saja, dan saya pribadi ingin naik ke kasta dua dijit tapi apa daya belum menemukan duit yang nyelip di dalam dompet. Tapi dengan apa yang ada sekarang saya harus bisa membuat karya yang tetap membuat orang senang melihatnya.

*aduh kapan ya punya 5D Mark II*

Series of Ryofu Housen


Series of Ryofu Housen – 1 by ~isdahahmad on deviantART


Series of Ryofu Housen – 2 by ~isdahahmad on deviantART

(more…)

Series of Lonely Flower


Series of Lonely Flower – 1 by ~isdahahmad on deviantART


Series of Lonely Flower – 2 by ~isdahahmad on deviantART



Back to top