Isdah Ahmad

captured in fast script motion


Beda selera presentasi gagal

Sebulan lalu kami bertiga mendapat tugas untuk membuat presentasi mengenai sekolah tempat kami bekerja. Bukan hal yang sulitkan? Kita sudah mendapat konsep untuk presentasi itu. Konsepnya: presentasi itu dibagi menjadi empat bagian komponen utama (kebijakan sekolah), presentasi itu berisi kumpulan foto mengenai perubahan di sekitar lingkungan sekolah. That’s all

Berbekal OpenOffice.org Impress Microsoft PowerPoint 2007 dan MS Windows Movie Maker kami membuat konsep presentasi yang sederhana. Untuk menampilkan foto yang begitu banyak cukup dibilang susah bila harus klik satu per satu slide. Jadi kita memakai MS Windows Movie Maker untuk membuat sebuah film slide show dari kumpulan foto tersebut, hasil generate dari Movie Maker menjadi wmv.

Malam hari Ibu Kepala Sekolah SMS dengan pesan “Bp ibu tim adiwiyata jkt akan datang ke sma 5 tgl 8 april besok pagi jam 07.00 kita koordinasi di ruang ks.Tks”. Melihat isi SMS tersebut dapat dibilang kedatangan Tim Adiwiyata sangat mendadak, padahal acara tersebut sangat besar setingkat nasional.

Jam 07.00 kita semua berkumpul untuk koordinasi acara di perpustakaan sekolah. Here we go hasil ppt kita diminta untuk ditampilkan. Slide demi slide kita tampilkan tapi hal itu menjadi bahan tertawaan. Semua mengatakan bahwa ppt tersebut kuno seperti tahun 60′an *hey that’s my line*. PPT tersebut semua menggunakan template dari MS Powerpoint 2007, template official tersebut sudah pasti telah melewati tes sehingga dapat menjadi default template MS Powerpoint 2007.

Saya suka dengan kritikan yang tajam karena itu membuka mata saya, tapi beberapa rekan saya yang ikut mengerjakan ppt tersebut hanya menunduk malu karena menjadi bahan dagelan. Di sisi lain saya ikut ngakak karena mendengar komentar orang.

Beberapa orang yang ikut dalam rapat itu memberikan contoh ppt seperti apa yang diinginkan. Kami bersama melihat ppt tersebut sambil sedikit melamun *OMG*. Ketika itu juga saya curhat di kampung gajah untuk meminta pendapat para pakar designer “bagaimana membuat desain ppt yang tepat untuk orang kelahiran tahun 60′an”. Berikut yang dapat disimpulkan *ngakak*:

  • Pakai foto yang di-resize ukurannya secara tidak proporsional
  • Pakai banyak clipart
  • Font pakai warna-warni tiap poinnya
  • Pakai banyak wordart
  • Gunakan background yang berbeda, dan tetap secara tidak proporsional
  • Jangan lupa pakai backsound lagu Titiek Puspa

Tapi memang benar contoh yang diberikan sesuai dengan poin di atas. Sekarang kami merevisi ppt yang telah kami buat dengan menggunakan desain di jaman ketika template belum ada *kapan ya*. PPT yang baru sesuai dengan poin yang ada di atas.

Harapan kami ppt yang baru sesuai dengan keinginan mereka semua. Dan harapan pribadi saya, bila saya seumuran mereka nanti saya masih bisa terus mengikuti perkembangan desain dan teknologi yang ada. Biar tetap terlihat trendi lah… *halah*

Laporan lingkungan bertumpuk calon sampah baru

Beberapa minggu yang lalu saya berserta teman-teman mempunyai tugas untuk membuat laporan mengenai Adiwiyata. Apa itu Adiwiyata? Adiwiyata sama seperti lomba Adipura tapi untuk tingkat sekolah. Laporan itu merupakan hasil dari kegiatan kepedulian sekolah terhadap lingkungan, dari kegiatan siswa menanam pohon, pelestarian lingkungan sekolah dengan pembangunan Green House, sampai dengan pengolahan sampah organik.
Laporan yang dibuat terdiri dari enam buku dan itu harus rangkap dua, satu dikirim ke Jakarta dan satunya dikirim ke Surabaya. Dalam satu buku laporan terdiri dari puluhan lembar kertas A4S (80gram) ditambah kertas photo glossy. Dan dalam pembuatan laporan itu juga menghabiskan tinta beberapa botol. Jumlah tersebut memang cukup ironis, dimana kita mengkampanyekan untuk mengurangi penggunaan sampah kertas dan plastik berlebih tetapi kita malah banyak menghamburkan kertas terlebih lagi ketika salah mencetak atau paper-jam yang membuat kertas lusuh.Dengan tebalnya laporan tersebut, saya sedikit ragu apakah laporan tersebut dibaca dan dianalisa satu per satu oleh petugas yang berwenang. Kenapa mereka tidak menilai secara obyektif saja dengan datang dan melihat sekolah tersebut?

Solusinya bagaimana? Mengapa kita tidak memberikan kepada juri berupa file dengan format Portable Document Format (PDF). Padahal file dengan format PDF tersebut merupakan dokumen resmi. Dengan begitu berapa banyak pohon yang terselamatkan? Berapa banyak sampah yang berkurang?



Back to top