Being Social Smoker
Terus terang saya bukan perokok terlebih lagi saya benci bau asap rokok. Saya mencoba untuk menghidar dari asap rokok walaupun terhitung cukup sulit karena teman saya kebanyakan perokok aktif. Pernah saya bertanya kepada perokok “apa seeh enaknya merokok?”. Mereka dengan tegas mengatakan “coba dulu, baru tau dimana enaknya”.
Karena capek untuk melarang seseorang merokok dan kata hati ingin sekali mencium udara yang segar dan bebas asap rokok, saya memutuskan untuk menjadi seorang perokok untuk mencari sela untuk memberikan alasan kepada mereka.
Sudah dua bulan saya menjadi seorang social smoker, seseorang yang merokok ketika berada di dalam lingkungan perokok. Tapi heran, sampai detik ini saya masih belum bisa mengatakan enaknya merokok ada dimana? Berbagai cara merokok sudah saya coba, namun hanya rasa sakit aja yang tersisa.
Kapan hari membaca blog dodi tentang Renungan Dahsyat Soal Rokok dan Kecupuan. Kemudian saya mendiskusikan dengan rekan saya seorang pecandu rokok berat. Beliau mengatakan bahwa merokok itu enaknya ketika sedang termenung, memikirkan sesuatu atau sedang refreshing di pegunungan. Tanpa pikir panjang sayapun mencoba melakukan hal itu. Tapi sayang saya masih juga belum menemukan rasa nikmat dari rokok.
Aaah… rokok? hanya orang bodoh saja merokok, rasanya loh cuman ada sakit dan sesak saja. Setelah posting blog ini saya memutuskan untuk berhenti merokok.
